Habanusantara.net, Di balik perbukitan hijau kawasan Lhoknga, tersimpan sebuah sudut alam yang belum banyak tersentuh hiruk-pikuk wisata massal. Namanya Pucok Krueng—sebuah hulu sungai yang diam-diam memikat hati siapa pun yang datang. Bagi sebagian orang, tempat ini bukan sekadar destinasi, melainkan ruang pelarian untuk menemukan ketenangan yang semakin sulit didapat.
Perjalanan menuju lokasi dimulai dari Banda Aceh, dengan waktu tempuh sekitar 30 hingga 45 menit. Rute menuju Pucok Krueng terbilang cukup menantang, namun justru di situlah letak daya tariknya.
Setelah melewati jalan utama Banda Aceh–Lhoknga, pengunjung akan diarahkan masuk ke jalur desa di kawasan Mon Ikeun. Dari sini, kondisi jalan mulai berubah—tidak lagi mulus, melainkan berbatu dan menyusuri area perkebunan warga.
Kendaraan roda dua maupun roda empat masih dapat digunakan hingga titik tertentu. Namun, untuk mencapai lokasi utama, pengunjung harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Jalur setapak yang dilalui tidak terlalu sulit, tetapi cukup untuk memberi sensasi petualangan ringan. Suara aliran air mulai terdengar samar-samar, menjadi penuntun alami sebelum akhirnya pemandangan utama tersaji di depan mata.
Pucok Krueng tampil dengan cara yang sederhana, namun justru memikat. Airnya muncul dari dalam celah gua di kaki tebing karst, mengalir jernih dengan warna biru kehijauan yang begitu kontras dengan bebatuan di sekitarnya. Kolam alami yang terbentuk tampak tenang di permukaan, namun menyimpan kedalaman di beberapa titik.
Di sekelilingnya, tebing kapur menjulang tinggi, dipadukan dengan pepohonan hijau yang tumbuh lebat. Cahaya matahari yang masuk dari sela-sela dedaunan menciptakan pantulan warna air yang berubah-ubah—kadang biru terang, kadang kehijauan, tergantung sudut pandang. Pemandangan ini membuat banyak pengunjung spontan mengabadikan momen, menjadikan lokasi ini salah satu spot fotografi alami yang semakin populer.
Namun, bukan hanya visual yang membuat Pucok Krueng istimewa. Suasana yang ditawarkan terasa begitu “hidup”. Tidak ada suara mesin, tidak ada keramaian berlebihan—yang ada hanya suara air, angin, dan sesekali cuitan burung. Bagi wisatawan yang datang dari kota besar, pengalaman ini terasa seperti jeda yang sangat berharga.
Duta Wisata Kabupaten Aceh Besar, Resa Raditia, menilai Pucok Krueng memiliki karakter kuat sebagai destinasi wisata berbasis alam yang autentik.
“Yang membuat Pucok Krueng menarik itu bukan hanya keindahannya, tapi juga suasananya yang masih sangat asli. Ini yang dicari wisatawan sekarang, terutama mereka yang ingin benar-benar merasakan alam, bukan sekadar berkunjung,” ujar Resa.
Ia menambahkan, ke depan kawasan ini berpotensi menjadi salah satu ikon wisata alam Aceh Besar jika dikelola dengan tetap menjaga keseimbangan antara kunjungan dan kelestarian lingkungan.![Wisata Pucok Kreueng, Aceh Besar[Foto/HO Habanusantara]](https://habanusantara.net/wp-content/uploads/2026/04/IMG_3734.JPG-scaled.jpeg)
Sementara itu, Rahmad, salah seorang warga setempat yang kerap membantu mengarahkan pengunjung, mengatakan bahwa Pucok Krueng mulai ramai dikenal dalam beberapa tahun terakhir, terutama melalui media sosial.
“Banyak yang tahu dari foto-foto di internet. Mereka penasaran karena airnya terlihat sangat jernih. Tapi begitu sampai, biasanya mereka bilang aslinya jauh lebih bagus,” katanya.
Menurut Rahmad, waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi hingga siang hari, saat cahaya matahari memperjelas warna air. Ia juga mengingatkan pengunjung untuk tetap berhati-hati saat berenang, mengingat kondisi dasar kolam yang berbatu dan kedalaman yang tidak merata.
Meski fasilitas di kawasan ini masih sederhana—hanya terdapat beberapa pondok kayu dan musala kecil—hal tersebut justru menjadi bagian dari daya tariknya. Tidak ada bangunan besar atau sentuhan modern yang berlebihan. Semua terasa apa adanya.
Pucok Krueng adalah contoh bagaimana alam tidak selalu membutuhkan banyak “hiasan” untuk memikat. Ia hadir dengan kejujuran—jernih, tenang, dan apa adanya. Bagi wisatawan lokal, domestik, hingga mancanegara yang mencari pengalaman berbeda, tempat ini menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar pemandangan: sebuah rasa.
Di sini, waktu seolah melambat. Dan mungkin, justru di situlah letak keindahannya.[***]





