Habanusantara.net – Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Dr Musriadi Aswad MPd, mengisi tausyiah keagamaan di Masjid Al Ikhlas Gampong Ilie, Kecamatan Ulee Kareng, Kota Banda Aceh, Sabtu (21/2/2026) malam. Tausyiah tersebut digelar dalam rangka memperkuat pemahaman umat Islam tentang hakikat ibadah puasa di bulan suci Ramadan.
Di hadapan jamaah yang memenuhi masjid, Musriadi mengupas kandungan Surat Al-Baqarah ayat 183 hingga 187. Ia menegaskan bahwa tujuan utama puasa sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut adalah membentuk pribadi yang bertakwa (muttaqin).
“Allah SWT memerintahkan puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa. Ketakwaan itu memiliki indikator yang jelas dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Baca juga : Pimpinan DPRK Minta Perumdam Tirta Daroy Jaga Kelancaran Distribusi Air Bersih Selama Ramadan
Musriadi menjelaskan, setidaknya terdapat empat indikator utama seseorang dapat disebut sebagai insan bertakwa.
Pertama, rasa takut kepada Allah SWT. Menurutnya, orang bertakwa senantiasa merasa diawasi oleh Allah dalam setiap aktivitasnya. Ia mengingatkan, jika manusia bisa takut pada bencana atau kesulitan hidup, maka seharusnya rasa takut kepada Allah sebagai Dzat Yang Maha Mengatur segalanya jauh lebih besar. Indikator ini, kata dia, menunjukkan bahwa puasa bertujuan memperkuat keimanan dan prinsip tauhid.
Kedua, beramal sesuai tuntunan syariat. Orang bertakwa adalah mereka yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Puasa, lanjutnya, menjadi latihan efektif untuk mendisiplinkan diri agar taat terhadap aturan agama.
Baca juga : Dukungan Penuh DPRK untuk Kelanjutan Pembangunan Mes Sabang
Ketiga, ridha dengan yang sedikit. Musriadi menuturkan bahwa manusia pada dasarnya cenderung menginginkan lebih, namun tidak selalu diiringi sikap menerima ketentuan Allah. Melalui puasa, umat Islam diajarkan bersyukur atas rezeki yang ada, menerima dengan lapang dada, dan meyakini bahwa Allah menciptakan segala sesuatu sesuai kadarnya.
Keempat, menyiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Ia menegaskan, orang bertakwa memprioritaskan kehidupan yang kekal dibandingkan kehidupan dunia yang sementara, sebagaimana banyak ditegaskan dalam ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW.
Musriadi berharap tausyiah tersebut menjadi pengingat bagi jamaah untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, serta memperkuat akhlak dalam kehidupan bermasyarakat.
“Semoga Ramadan ini tidak hanya mengubah jadwal makan kita, tetapi juga mengubah cara berpikir, cara bersikap, dan cara kita mendekat kepada Allah SWT,” tutupnya.[***]





