Habanusantara.net – Pendataan Keluarga Tahun 2025 mencatat sebesar 23,01 % atau satu dari empat keluarga yang memiliki anak di Provinsi Aceh mengalami fatherless. Fatherless adalah kondisi ketika seorang anak tumbuh tanpa kehadiran atau peran aktif sosok ayah, baik secara fisik (ayah tidak ada) maupun psikologis (ayah ada tapi tidak terlibat).
Pada 2021, Unicef UNICEF menunjukkan data bahwa sekitar 20,9% anak di Indonesia menghadapi fenomena fatherless, yaitu ketiadaan peran ayah secara fisik atau psikologis. Jumlah ini meningkat pada 2025, hasil PK 2025 mencatat 25,8% anak Indonesia hidup tanpa sosok ayah. (Sumber Pusdatin Kemendukbangga/BKKBN). Jika tidak ditangani serius bisa berdampak pada perkembangan emosional, sosial, dan kognitif anak di Indonesia dan Aceh khususnya.
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga(Kemendukbangga)/BKKBN Perwakilan BKKBN Aceh menggelar diskusi bertajuk “Fenomena Fatherless vs Latte Dad: Mempersiapkan Peran Ayah dalam Membangun Keluarga Berkualitas” di Hoco Coffee Lambuk, pada 20 Desember 2025 di Banda Aceh.
Talkshow dengan Djati FM ini dihadiri sekitar 60 peserta dari komunitas dan mitra kerja BKKBN Aceh. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman tentang peran ayah dalam pengasuhan anak di dalam keluarga. Sebagai Narasumber Dosen Fakultas MIPA Universitas Syiah Kuala, Ust.Dr.rer.nat.Ilham Maulana,S.Sin, Pengiat Media Sosial di Aceh, Reza Saputra dan Qurratu Falmuriat.
Terkait ketidakhadiran sosok ayah di dalam keluarga dalam pengasuhan anak, menurut Ilham Maulana, akan berdampak signifikan terhadap tingkat kualitas generasi muda di Aceh. “Fenomena fatherless bukan faktor genetik atau warisan DNA, melainkan
pengaruh lingkungan dan pola interaksi. Untuk itu ayah harus hadir dan ikut serta berperan dalam pengasuhan anak, menanamkan nilai-nilai agama dalam membangun pondasi diri, ” ucapnya.
Sementara Penggiat Media Sosial, Reza Saputra, mengatakan, pentingnya keterlibatan emosional ayah dalam pengasuhan anak. Menurutnya, anak membutuhkan ayah yang hadir secara emosional, bukan hanya fisik, sehingga anak tumbuh rasa percaya diri dapat bersosial dengan baik di lingkungan sekolah maupun tempat tinggal,” ujarnya.
Sedangkan Qurratu Falmuriat, lebih menyoroti tentang peran positif ayah masa kini dalam fenomena Latte Dad. “Ayah dari generasi milenial dan Gen Z lebih komunikatif dan terlibat langsung dalam pengasuhan. Mereka sadar betul akan tanggung jawab membentuk karakter dan kecerdasan anak,” imbuhnya.
Fenomena fatherless vs latte dad, memiliki konteks bukan sekadar menemani anak, tetapi mencakup keterlibatan ayah dalam tumbuh kembang anak di keluarga, terutama pada masa golden age. (R)




















