Habanusantara.net – Dua puluh satu tahun telah berlalu sejak gelombang tsunami meluluhlantakkan Aceh. Namun bagi para penyintas, waktu tak pernah benar-benar menghapus luka.
Pagi 26 Desember 2025, kuburan massal Ulee Lheue kembali dipenuhi peziarah. Doa-doa dipanjatkan, air mata jatuh perlahan, dan ingatan tentang orang-orang tercinta kembali menyeruak.
Di antara mereka, Reka, warga Gampong Lamgugob, datang bersama suaminya. Mereka berdiri lama di hadapan pusara massal tempat ribuan korban tsunami dimakamkan tanpa nama, tanpa nisan, namun penuh cerita kehilangan.
Bagi Reka, lokasi ini menyimpan seluruh kisah keluarga suaminya yang lenyap pada 2004 silam. Saat tsunami terjadi, Reka dan suaminya belum menikah. Dalam satu hari, suaminya kehilangan segalanya.
“Suami saya tinggal sendiri. Tidak ada lagi sanak saudara. Ayah, ibu, sembilan orang keluarga, termasuk ponakan, semuanya tidak pernah ditemukan,” ujar Reka dengan suara tertahan.
Tsunami bukan hanya merenggut nyawa, tetapi juga menghapus jejak kehidupan. Rumah keluarga suaminya rata dengan tanah, tak tersisa apa pun untuk kembali.
Sejak hari itu, sang suami menjalani hidup tanpa keluarga, tanpa tempat pulang.
Kesedihan itu, kata Reka, terasa paling dalam saat hari pernikahan mereka tiba. Di momen yang seharusnya penuh kebahagiaan, justru yang hadir adalah sunyi.
“Waktu menikah, suami saya sangat sedih. Tidak ada satu pun keluarganya yang datang. Di hari bahagia itu, dia sendirian,” katanya.
Reka menyebut, setiap peringatan tsunami selalu membuka kembali ingatan lama. Namun ia memilih datang bukan hanya untuk mengenang, melainkan untuk belajar dan mengingatkan.
Ia berharap kisah tsunami Aceh terus diceritakan kepada generasi setelahnya, kepada anak dan cucu agar tragedi serupa tidak lagi memakan korban karena ketidaksiapan.
“Dulu kami tidak tahu apa-apa tentang bencana. Tidak tahu harus berbuat apa sebelum dan sesudahnya. Saya berharap cerita tsunami ini terus disampaikan ke anak,” harapnya.[Fira]




















