Habanusantara.net— Setiap tanggal 3 Agustus, dunia memperingati Hari Kesadaran Sindrom Cloves, sebuah momen penting untuk mengenalkan salah satu penyakit genetik langka yang masih belum banyak dipahami masyarakat. Meski asing di telinga, Cloves Syndrome bukan penyakit baru. Kasus pertama yang tercatat bahkan sudah ditemukan sejak abad ke-19.
Sindrom Cloves (Congenital Lipomatous Overgrowth, Vascular malformations, Epidermal nevi, Scoliosis/Skeletal and spinal anomalies) merupakan kelainan genetik bawaan yang ditandai dengan pertumbuhan jaringan berlebih, kelainan tulang, serta pembuluh darah yang tidak normal. Penyakit ini biasanya terdeteksi sejak bayi lahir dan bisa berdampak serius terhadap kualitas hidup penderita.
Menurut laporan dari National Institutes of Health (NIH), hingga saat ini hanya sekitar 200 kasus Cloves Syndrome yang tercatat di seluruh dunia. Di Indonesia, angka pastinya belum diketahui secara resmi, namun sejumlah ahli kesehatan anak menyebut kemungkinan masih ada kasus yang belum terdiagnosis dengan tepat.





