Kadispar: Ekonomi Kreatif Harus Jadi Ujung Tombak Ekonomi Kota

Redaksi
A-AA+A++

Habanusantara.net – Di tengah lesunya ekonomi konvensional, satu sektor justru terus menggeliat pelan tapi pasti: ekonomi kreatif. Bagi Kepala Dinas Pariwisata Banda Aceh, Said Fauzan, inilah saatnya ekraf jadi ujung tombak ekonomi kota, bukan cuma pelengkap atau jargon belaka.

“Ekraf itu masa depan. Kita punya modal besar, tinggal bagaimana ngelolanya biar bisa berdampak luas,” ujarnya

Banda Aceh memang punya potensi besar. Banyak anak muda yang jago desain, videografi, fashion, hingga kuliner khas yang dikemas dengan gaya modern. Tapi, kata Fauzan, semua potensi itu nggak akan berarti tanpa SDM yang kuat.

“SDM itu fondasi utama. Makanya kami terus dorong pelaku ekraf ikut pelatihan, upgrade skill, sampai belajar digital marketing. Tujuannya biar mereka makin pede bersaing,” jelasnya.

Menurutnya, dunia kreatif itu nggak bisa kerja sendirian. Harus nyambung antara pelaku usaha, perbankan, media, dan pemerintah. “Kalau semua link-nya kuat, efeknya bakal luar biasa. Produk lokal bisa tembus nasional bahkan global,” tambahnya.

Fauzan juga menyoroti tantangan yang dihadapi pelaku ekraf hari ini: tren yang cepat berubah dan persaingan makin ketat. Tapi, justru di situlah peluangnya. “Yang kreatif, yang berani beda, mereka yang bakal survive,” katanya.

Dispar Banda Aceh sendiri terus gas promosi buat naikin pamor produk lokal. Nggak cuma di pameran atau expo, tapi juga lewat platform digital. “Sekarang kita dorong pelaku ekraf aktif di media sosial, bikin konten, jualan online. Dunia digital itu etalase baru,” sebut Fauzan.

Menurutnya, Banda Aceh sudah otomatis jadi etalase Aceh. Kalau produk lokal sukses di ibukota provinsi, maka pantulan cahayanya bisa sampai ke seluruh Aceh. “Kalau expo jalan, digital jalan, peluang interaksi makin besar. Harapannya daya beli produk pelaku ekraf juga ikut naik,” ujarnya optimistis.

Yang bikin semangat, Banda Aceh punya bahan bakar utama: anak muda dan ide liar mereka. Kota ini penuh kampus, banyak komunitas kreatif, dan generasi Z yang udah terbiasa mikir digital.

“Anak muda sekarang bisa produktif sambil nongkrong di kafe. Mereka bisa jual karya digital, bikin konten, atau buka usaha kecil berbasis ide. Nggak perlu modal besar, yang penting mau mulai,” kata Fauzan.

Ia percaya, dengan semangat kolaborasi, teknologi, dan keberanian untuk bereksperimen, Banda Aceh bisa lahirkan banyak brand lokal yang tembus pasar nasional bahkan internasional.

“Yang penting jangan takut mulai dari nol. Kreatif, inovatif, dan terus upgrade diri. Kalau itu dijalankan, insya Allah ekraf kita bisa jadi ujung tombak ekonomi Banda Aceh,” tutupnya.[***]