Habanusantara.net, Atlet lontar martil asal Aceh, Dedi Yusuf, sukses mengukir sejarah baru dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-21 dengan torehan medali emas dan sekaligus memecahkan rekor PON sebelumnya.
Lontaran sejauh 55,27 meter yang dicetak Dedi Yusuf pada Selasa (17/09/2024) tidak hanya mempersembahkan emas untuk kontingen Aceh, tetapi juga memecahkan rekor PON yang sebelumnya dipegang oleh Rafika Putra dari Sumatera Barat dengan jarak 54,05 meter pada PON 2021 Papua.
Keberhasilan ini semakin istimewa karena Dedi hampir mendekati rekor nasional senior yang masih dipegang oleh Dudung Suhendi (Jawa Barat) sejak 2011 dengan jarak 55,96 meter.
Kemenangan ini membawa angin segar bagi kontingen Aceh yang terus menunjukkan performa gemilang di cabang atletik PON ke-21 yang digelar di Stadion Madya Sena, Sumatera Utara.
Prestasi Dedi Yusuf melengkapi raihan emas Aceh dari cabang olahraga atletik. Sebelumnya, Aceh telah mencatat kemenangan dari dua nomor lainnya, yakni Lompat Tinggi Putri yang diraih oleh Cut Sahra Nazwa dan nomor Dasa Lomba Putra oleh Fauma Depril Jumma.
Dengan torehan medali emas berturut-turut ini, Aceh semakin mengukuhkan dirinya sebagai kekuatan baru dalam cabang olahraga atletik di PON kali ini.
Keberhasilan kontingen Aceh tidak lepas dari kerja keras dan persiapan matang. Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Aceh sekaligus Ketua Kontingen PON Aceh di Sumut, Bachtiar, menyatakan rasa syukur dan bangganya atas pencapaian para atlet.
“Alhamdulillah, ini semua hasil kerja kolektif, terutama berkat kerja keras pengurus bersama Panitia Pelatda. Terima kasih atas bantuan dan doa kita semua, amin… amin,” ungkap Bachtiar dengan haru.
Medali emas Dedi Yusuf bukan hanya mencatatkan namanya di sejarah PON, tetapi juga mempertegas bahwa kontingen Aceh menjadi kekuatan yang tidak bisa diabaikan.
Sebelum lontaran spektakuler Dedi, Aceh juga mencuri perhatian dengan kemenangan fenomenal Fauma Depril Jumra di nomor Dasa Lomba. Fauma, yang dijuluki sebagai manusia perkasa, berhasil memecahkan rekor nasional yang telah bertahan selama 31 tahun.
Dengan total nilai 6952 poin, ia melampaui rekor Julius Uwe yang mengoleksi 6901 poin pada 5 September 1993.
“Ini benar-benar hasil yang fenomenal sekaligus menaikkan marwah atletik Aceh di kancah multi event PON XXI. Hasil yang sangat pantas untuk disyukuri dan terima kasih untuk hasil terbaik dari kerja kolektif semua pihak,” ujar Bachtiar Hasan, yang memberikan pernyataan sesaat setelah pengalungan medali untuk Fauma.
Kemenangan ini juga memberikan pesan kuat bahwa Aceh memiliki sumber daya atletik yang mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional.
Di nomor Dasa Lomba, medali perak diraih oleh Teuku Tegar Abadi dari Jawa Timur, yang juga keturunan Aceh, dengan koleksi 6617 poin. Medali perunggu disabet oleh Idan Fauzan dari Jawa Barat dengan nilai 5911 poin.
Keberhasilan Fauma, menurut Bachtiar, tak lepas dari strategi matang pelatih dan konsistensi Fauma dalam menjaga stamina dan fokus selama dua hari perlombaan.
Bachtiar Hasan tidak henti-hentinya mengapresiasi kerja keras tim atletik Aceh, termasuk pelatih, tim manajemen, serta dukungan dari masyarakat Aceh yang terus memberikan semangat.
“Ini hasil dari latihan keras dan persiapan yang matang. Teknik yang diterapkan pelatih, serta konsistensi penampilan Fauma dan Dedi, menjadi kunci kesuksesan kami di PON kali ini,” tegas Bachtiar.
Selain Fauma dan Dedi, Cut Sahra Nazwa juga turut menyumbangkan emas bagi Aceh di nomor Lompat Tinggi Putri pada Minggu (15/09/2024), mengukuhkan dominasi Aceh di cabang atletik.
Keberhasilan Cut Sahra tidak hanya meningkatkan jumlah medali, tetapi juga menambah motivasi bagi atlet lainnya yang akan berlaga di nomor-nomor berikutnya.
Masih ada beberapa cabang atletik yang akan diikuti oleh kontingen Aceh, termasuk perlombaan marathon yang akan digelar pada Kamis (19/09/2024).
Potensi meraih medali dari cabang ini sangat besar, dan seluruh kontingen Aceh bersiap memberikan yang terbaik hingga akhir perlombaan.[**]




















