Muzakarah Internasional Sufi Angkat Kembali Khazanah Tasawuf Aceh ke Dunia, Hadir Ulama 13 Negara

Redaksi
A-AA+A++

Habanusantara.net — Khazanah tasawuf Aceh kembali diangkat ke panggung internasional. Sejumlah ulama sufi dari 13 negara dijadwalkan berkumpul di Banda Aceh dalam Muzakarah Internasional Ulama Sufi ke-II, 9–11 Oktober 2026.

Muzakarah yang berlangsung di Balai Meuseuraya Aceh (BMA) tersebut mengusung tema “Mengangkat Ajaran Sufi untuk Persatuan dan Perdamaian Ummat.”

Forum ini mempertemukan ulama dan peserta dari berbagai negara untuk membahas nilai-nilai tasawuf, terutama dalam memperkuat persatuan, perdamaian serta kehidupan beragama yang harmonis.

Ketua Umum MPTT-Indonesia, Abi Sahal Tastari Waly, SE., MM, melalui Penasehat Panitia Muzakarah Internasional Ulama Tauhid, Abu Syukri Daud Pango, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar forum keagamaan.

Menurutnya, muzakarah menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kembali sejarah dan khazanah tasawuf Aceh kepada masyarakat internasional.

Aceh, kata Abu Syukri, memiliki sejarah panjang dalam perkembangan tasawuf. Sejumlah ulama besar seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani dan Abdurrauf as-Singkili dikenal sebagai tokoh yang mengembangkan pemikiran serta ajaran tasawuf di Aceh.

“Harapannya ajaran sufi ini akan berkembang kembali dan diangkat kembali di bumi Aceh, sebagaimana pernah berkembang pada masa kesultanan Aceh,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tasawuf tidak hanya berkaitan dengan ritual keagamaan, tetapi juga menyangkut pembentukan akhlak dan penyucian jiwa.

Menurutnya, kesucian hati menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik. Nilai-nilai tersebut juga diyakini dapat menjadi jalan memperkuat persatuan di tengah perbedaan.

“Puncaknya terjadi persatuan dan puncaknya terjadi perdamaian,” katanya.

Para ulama dan peserta yang dijadwalkan hadir berasal dari Turki, Maroko, Mesir, Palestina, Kamboja, Filipina, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Pakistan dan Indonesia.

Kehadiran mereka sekaligus diharapkan menjadi ruang untuk memperkenalkan Aceh sebagai daerah yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan Islam dan tradisi keilmuan.

Abu Syukri menyebut muzakarah tersebut menjadi salah satu cara memperkenalkan kembali Aceh melalui pendekatan keagamaan dan budaya.

“Ini salah satu cara kita untuk mengangkat nama Aceh ke permukaan hingga ke mata dunia,” katanya.

Ia mengatakan dalam pengamalan Islam terdapat dimensi syariat secara lahiriah dan hakikat secara batiniah. Pemahaman terhadap dimensi batin dinilai penting untuk membentuk pribadi yang mampu mengendalikan penyakit hati dan mengedepankan kedamaian.

“Melalui materi ulama-ulama kita nanti akan memberikan pemahaman bagaimana kita mengamalkan agama ini dalam dimensi batiniah,” ujarnya.

Di sisi lain, panitia menegaskan muzakarah tersebut tidak berkaitan dengan agenda politik maupun isu lain yang sedang berkembang di Aceh.

Abu Syukri memastikan kegiatan itu murni menjadi forum ulama dan jamaah untuk membahas tasawuf, persatuan dan perdamaian.

“Acara ini bukan untuk menciptakan konflik, tapi untuk melakukan perdamaian dan persatuan di Aceh,” tegasnya.

Ia juga mengimbau seluruh jamaah dan peserta menjaga keamanan serta ketertiban selama kegiatan berlangsung.

Panitia memastikan tidak ada agenda pengibaran bendera maupun kegiatan lain di luar tujuan utama muzakarah. Masyarakat juga diminta tidak mengaitkan kegiatan tersebut dengan isu-isu lain yang berkembang di ruang publik.

“Kita sama-sama jaga perdamaian Aceh dan jaga ketertiban di negeri Aceh. Kita jaga acara ini mudah-mudahan sukses sebagaimana yang direncanakan,” katanya.

Melalui pertemuan tersebut, panitia berharap nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin semakin kuat di tengah masyarakat.

Perbedaan sudut pandang dalam kehidupan beragama diharapkan tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan ruang untuk saling memahami dan berlomba dalam kebaikan.