Habanusantara.net— Klaim pengurangan penggunaan air sungai hingga 100 persen di tengah ancaman kemarau menjadi salah satu catatan menarik dari Pabrik Lhoknga milik PT Solusi Bangun Indonesia Tbk. Lalu, benarkah penggunaan air sungai di pabrik semen tersebut sudah ditekan hingga tidak lagi digunakan untuk kebutuhan operasional?
Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025 Solusi Bangun Indonesia, Pabrik Lhoknga di Aceh memang mencatat pengurangan penggunaan air baku dari sungai sebesar 100 persen sepanjang 2025.
Capaian tersebut dilakukan melalui pemanfaatan air hujan dengan fasilitas penampungan sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap air sungai dalam kegiatan operasional pabrik.
Langkah itu dilakukan ketika kebutuhan efisiensi air semakin penting. Berdasarkan analisis dan prakiraan BMKG, kondisi atmosfer kering masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia seiring musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering dan lebih panjang dari normal. Fenomena El Niño juga diprakirakan masih bertahan hingga awal 2027.
Direktur Operasi Solusi Bangun Indonesia Edi Sarwono mengatakan perubahan pola iklim mendorong sektor industri untuk semakin adaptif dalam mengelola sumber daya air.
“Air merupakan sumber daya vital bagi kehidupan termasuk kegiatan ekonomi dan industri. Karena itu, kami terus berupaya menurunkan penggunaan air permukaan dengan memanfaatkan sumber air alternatif seperti pemanenan air hujan, penggunaan recycled water, serta penggunaan teknologi yang membantu mengoptimalkan distribusi air ke fasilitas produksi agar lebih efisien,” ujar Edi.
Upaya di Lhoknga merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam menekan pengambilan air baku. Secara keseluruhan, Solusi Bangun Indonesia menargetkan pengurangan pengambilan air baku sebesar 10 persen dibandingkan baseline 2019 dalam Target Keberlanjutan 2030.
Namun, hingga 2025, perusahaan menyebut pengurangan pengambilan air baku telah mencapai 45 persen dibandingkan baseline 2019.
Data perusahaan juga menunjukkan total pengambilan air baku turun dari 2.252 megaliter pada 2024 menjadi 2.132 megaliter pada 2025.
Pada periode yang sama, pengambilan air permukaan turun sekitar 18 persen, dari 841 megaliter menjadi 688 megaliter. Penggunaan air tanah juga berkurang sekitar 11 persen, dari 487 megaliter menjadi 432 megaliter.
Sebaliknya, volume air hujan yang ditampung meningkat sekitar 9 persen, dari 676 megaliter menjadi 734 megaliter.
Selain air hujan, empat pabrik semen Solusi Bangun Indonesia juga memanfaatkan recycled water. Sepanjang 2025, volume air daur ulang yang digunakan mencapai 563 megaliter atau setara 31,7 persen dari total pengambilan air.
Edi mengatakan berbagai langkah tersebut diarahkan untuk menjaga ketersediaan air sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
“Ketahanan menghadapi perubahan iklim dibangun dari keputusan yang kita ambil hari ini. Setiap upaya untuk menggunakan kembali air, memanfaatkan sumber alternatif, dan mengurangi kehilangan air membantu menjaga ketersediaannya bagi operasi, lingkungan, maupun masyarakat,” katanya.
Dengan demikian, angka 100 persen yang tercatat di Pabrik Lhoknga merujuk pada pengurangan penggunaan air baku dari sungai pada 2025, bukan berarti seluruh kebutuhan air pabrik dihentikan. Data perusahaan menunjukkan kebutuhan air juga dipenuhi melalui sumber alternatif, termasuk pemanfaatan air hujan.





