Habanusantara.net – Rencana pengalihan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke kantin sekolah mendapat penolakan dari sejumlah mitra MBG di Aceh Utara.
Pengusaha Muda menilai, apabila pengelolaan MBG dialihkan ke kantin sekolah, pihak sekolah berpotensi mendapatkan tambahan beban dalam mengelola penyediaan makanan bagi para siswa dan Bumil (Ibu Hamil), Busui (Ibu Menyusui), dan Balita (B3).
“Pihak sekolah sudah pasti akan sibuk mengurus manajemen kantin MBG di sekolah. Sehingga dikhawatirkan lalai terhadap tugas dan fungsinya sebagai pendidik,” ujar Pengusaha Muda Dedi Murtala Kepada Habanusantara Net Selasa 15 September 2026.
Menurutnya, persoalan tersebut bukan semata-mata mengenai siapa yang mengelola makanan, tetapi juga menyangkut fokus tenaga pendidik dalam memberikan perhatian kepada peserta didik.
Dedi Murtala mengatakan tidak semua sekolah memiliki bangunan kantin yang memenuhi standar untuk pengolahan dan penyediaan makanan dalam jumlah besar.
Pembangunan atau peningkatan fasilitas kantin juga akan membutuhkan anggaran tambahan yang tidak sedikit.
“Kalau memang harus dilakukan di kantin sekolah, kantinnya harus memiliki gedung yang sesuai standar. Ini tentu membutuhkan dana besar lagi. Tidak semua sekolah mempunyai kantin yang bagus dan memenuhi standar,” ucapnya Pengusaha Muda kota Panton labu
Sekolah, kata dia, memiliki tugas utama di bidang pendidikan dan tidak seharusnya kehilangan fokus karena dibebani fungsi yang berada di luar tugas utamanya.
“Jangan jadikan kantin sekolah sebagai dapur MBG. Itu tidak tepat sasaran. Sekolah harus fokus pada proses belajar mengajar, sementara penyediaan makanan bergizi seharusnya ditangani melalui SPPG sebagai sistem yang memang dipersiapkan untuk menjalankan program MBG,” tegas Dedi Murtala[Mnw]





