Habanusantara.net,— Puluhan ribu jamaah memadati Lapangan Landing, Lhoksukon, Aceh Utara, Rabu malam (9/9/2026). Dalam tabligh akbar rangkaian Milad Samudera Pasai ke-800 itu, Tgk Habibi An-Nawawi mengajak masyarakat kembali menelusuri jejak kejayaan kerajaan Islam yang pernah menjadi pusat perdagangan dan keilmuan di Nusantara.
Tausiah diawali dengan zikir awaliyah yang dipimpin Tgk Jamaluddin Rasyid. Setelah itu, Tgk Habibi naik ke panggung utama dan membawa jamaah menyusuri sejarah Kesultanan Samudera Pasai, termasuk sosok Sultan Al-Malik as-Saleh sebagai pendiri kerajaan tersebut.
Salah satu kisah yang menarik perhatian jamaah adalah catatan perjalanan Ibnu Batutah ketika singgah di Samudera Pasai pada 1345 Masehi.
Pengembara asal Maroko tersebut mencatat berbagai hal tentang kehidupan di Samudera Pasai saat melakukan perjalanan menuju Tiongkok. Catatan itu kemudian dikenal dalam karya Rihlah Ibnu Batutah.
Tgk Habibi mengangkat kisah pertemuan Ibnu Batutah dengan Sultan Al-Malik az-Zahir. Menurutnya, Ibnu Batutah tidak langsung menghadap Sultan setelah tiba di Pasai.
“Ibnu Batutah baru bertemu dengan Sultan pada hari ketiga, di masjid, pada hari Jumat,” kata Tgk Habibi.
Ia menjelaskan, Ibnu Batutah terlebih dahulu diberi waktu beristirahat selama tiga hari setelah menempuh perjalanan jauh. Bagi Tgk Habibi, kisah tersebut menggambarkan bagaimana adab terhadap tamu dijunjung dalam lingkungan Kesultanan Samudera Pasai.
“Ini adalah adab. Tamu diberikan waktu beristirahat terlebih dahulu sampai hilang rasa capek dari perjalanan,” ujarnya.
Ia juga mengisahkan kesan Ibnu Batutah terhadap Sultan Al-Malik az-Zahir. Sang Sultan disebut hadir ke masjid pada hari Jumat dengan berjalan kaki, tanpa kendaraan, pengawal maupun pakaian kebesaran.
“Ibnu Batutah bertemu Sultan di ruang takmir masjid, bukan di istana,” jelasnya.
Menurut Tgk Habibi, gambaran tersebut menunjukkan sisi lain kejayaan Samudera Pasai. Kemajuan kerajaan tidak hanya dilihat dari perdagangan dan kekuasaannya, tetapi juga dari kehidupan keagamaan, ilmu dan hubungan antara Sultan dengan para ulama.
Ia menyebut catatan Ibnu Batutah juga menggambarkan masyarakat dan Sultan Samudera Pasai yang mengamalkan ajaran Islam bermazhab Syafii serta aktif menyebarkan nilai-nilai Islam.
Cerita tersebut membuat suasana tabligh akbar semakin hidup. Jamaah diajak tidak hanya mengenang Samudera Pasai sebagai bagian dari sejarah, tetapi mengambil nilai yang dianggap masih relevan untuk kehidupan saat ini.
Bagi Tgk Habibi, ilmu, adab, kedekatan dengan ulama dan kehidupan keislaman merupakan bagian penting dari warisan Samudera Pasai yang dapat menjadi inspirasi bagi Aceh Utara untuk bangkit dan membangun masa depan.[Mnw]





