Habanusantara.net, Kenaikan harga beras dan bensin menjadi salah satu pemicu utama inflasi Aceh pada Juli 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat inflasi tahunan Aceh mencapai 5,38 persen, sementara inflasi bulanan berada di angka 0,24 persen.
Berdasarkan pemantauan BPS di lima wilayah penghitungan inflasi, yakni Aceh Tengah, Meulaboh, Aceh Tamiang, Banda Aceh, dan Lhokseumawe, terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 115,59 pada Juni 2026 menjadi 115,87 pada Juli 2026.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar terhadap tekanan inflasi. Secara tahunan, kelompok tersebut mengalami inflasi sebesar 6,49 persen dengan andil sebesar 2,44 persen terhadap inflasi Aceh.
Sementara secara bulanan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,20 persen dengan kontribusi 0,07 persen.
Komoditas yang paling banyak mendorong inflasi bulanan antara lain beras, bensin, cabai rawit, tomat, dan semen. Sedangkan secara tahunan, komoditas yang memberikan pengaruh terbesar adalah nasi dengan lauk, emas perhiasan, beras, cabai merah, dan bensin.
Dari lima wilayah penghitungan inflasi, Kabupaten Aceh Tengah mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 6,91 persen. Sementara inflasi tahunan terendah terjadi di Meulaboh dengan angka 3,50 persen.
Untuk inflasi bulanan, Kabupaten Aceh Tamiang menjadi wilayah dengan kenaikan harga tertinggi sebesar 0,71 persen. Sebaliknya, Kota Banda Aceh justru mengalami deflasi sebesar 0,03 persen pada Juli 2026.
Di sisi lain, kondisi petani Aceh menunjukkan tren positif. BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Aceh pada Juli 2026 mencapai 127,30 atau naik 1,57 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan tersebut dipengaruhi meningkatnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 1,76 persen. Komoditas yang mendorong kenaikan pendapatan petani antara lain gabah, kakao, dan kelapa sawit.
Sementara itu, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) naik 0,19 persen dengan komoditas penyumbang utama berupa beras, cabai rawit, dan bensin.
Selain indikator harga dan pertanian, BPS juga mencatat neraca perdagangan Aceh mengalami surplus sebesar 59,27 juta dolar AS pada Juni 2026. Nilai ekspor Aceh mencapai 85,31 juta dolar AS, lebih tinggi dibandingkan impor sebesar 26,04 juta dolar AS.
Ekspor Aceh pada periode tersebut didominasi komoditas batu bara dengan nilai 52,10 juta dolar AS atau sekitar 61,08 persen dari total ekspor. India menjadi tujuan ekspor terbesar dengan nilai 47,83 juta dolar AS.
Sementara itu, sektor pariwisata masih menghadapi tekanan. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Aceh pada Juni 2026 tercatat sebanyak 2.553 kunjungan, turun 18,90 persen dibandingkan Mei 2026 dan turun 29,42 persen dibandingkan Juni 2025.
Meski demikian, tingkat penghunian kamar hotel menunjukkan perbaikan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang mencapai 29,38 persen, naik dibandingkan bulan sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu.
BPS juga mencatat peningkatan mobilitas masyarakat. Jumlah penumpang angkutan udara domestik melalui Bandara Sultan Iskandar Muda pada Juni 2026 mencapai 22.502 orang, meningkat 31,03 persen dibandingkan Mei 2026.
Sedangkan jumlah penumpang angkutan laut di Aceh mencapai 116.406 orang atau naik 32,58 persen dibandingkan bulan sebelumnya.[*]





