Habanusantara.net– Pelaksanaan event Banda Aceh Experience yang menjadi bagian dari rangkaian Rapat Kerja Komisariat Wilayah (Raker Komwil) I APEKSI yang dibalut dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke 821 Kota Banda Aceh berhasil memicu perputaran ekonomi hingga Rp7,62 miliar. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari di Banda Aceh ini diikuti oleh 24 kota se-Sumatra.
Kehadiran para kepala daerah dan delegasi dari berbagai kota memberikan dampak nyata terhadap geliat ekonomi masyarakat.
Tingginya mobilitas tamu selama kegiatan berlangsung mendorong peningkatan aktivitas di berbagai pusat ekonomi kota, mulai dari hotel, restoran, hingga sektor transportasi.
Berdasarkan data penyelenggara, nilai direct impact dari event ini mencapai Rp5,08 miliar. Angka tersebut berasal dari belanja penyelenggara, kontribusi sponsor, pengeluaran pengunjung, serta pendapatan tenant yang terlibat dalam kegiatan
Sementara itu, indirect impact yang dihitung menggunakan koefisien 1,5 tercatat sebesar Rp2,54 miliar.
Dampak tidak langsung ini dirasakan luas oleh sektor pendukung seperti perhotelan, transportasi, hingga rantai pasok bahan baku, termasuk kuliner, produksi, energi, serta berbagai jasa pendukung lainnya.
Selain angka resmi tersebut, besarnya dampak ekonomi juga tercermin dari pergerakan pengunjung luar daerah.
Dengan kehadiran delegasi dari 24 kota, jumlah tamu yang datang ke Banda Aceh diperkirakan mencapai ribuan orang selama empat hari pelaksanaan kegiatan.
Jika diasumsikan setiap pengunjung membelanjakan minimal Rp500 ribu selama berada di Banda Aceh—baik untuk konsumsi, transportasi, maupun belanja produk lokal—maka potensi perputaran uang tambahan telah mencapai miliaran rupiah.
Angka ini bahkan belum termasuk pengeluaran untuk penginapan, kunjungan ke kafe, warung makan, hingga destinasi wisata yang turut menjadi tujuan para tamu.
Event Banda Aceh Experience juga melibatkan sedikitnya 130 tenant yang didominasi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Beragam produk ditawarkan, mulai dari kuliner, fesyen, hingga kerajinan kreatif, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung dan delegasi.
Salah satu pelaku UMKM, Fira dari tenant Secoklatitu, mengaku merasakan dampak positif dari keikutsertaannya dalam event tersebut.

Ia menyebutkan, hari pertama berjualan langsung menunjukkan hasil yang signifikan dibandingkan dengan penjualan harian biasanya.
“Alhamdulillah, hari pertama saja sudah jauh lebih ramai dari biasanya. Penjualan meningkat dan produk kami juga lebih dikenal oleh pengunjung dari luar daerah,” ujarnya.
Kegiatan ini dinilai mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang signifikan, khususnya pada sektor perhotelan, kuliner, transportasi, hingga pelaku UMKM lokal.
Selain meningkatkan penjualan, event ini juga menjadi wadah promosi yang efektif bagi pelaku usaha kecil untuk memperluas jangkauan pasar mereka.
Dengan capaian tersebut, Banda Aceh Experience tidak hanya menjadi ajang pendukung kegiatan pemerintahan, tetapi juga terbukti menjadi motor penggerak ekonomi daerah yang berdampak langsung bagi masyarakat.[]





