Habanusantara.net — Aroma bakaran yang khas bercampur dengan harum saus kacang kental seketika menyambut siapa saja yang melintasi kawasan kuliner di sepanjang bibir pantai Pulau Weh. Di antara deretan warung sederhana yang berdiri menghadap laut, asap tipis mengepul dari bara api, membakar potongan gurita yang ditusuk rapi. Inilah Sate Gurita, kuliner khas Sabang yang tak hanya menggoda selera, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi setiap penikmatnya.
Berbeda dengan sate pada umumnya yang berbahan dasar daging ayam atau kambing, sate gurita menawarkan sensasi yang unik. Teksturnya kenyal, namun tetap lembut saat digigit, menghadirkan perpaduan rasa laut yang segar dengan bumbu khas yang meresap sempurna. Setiap tusuk sate menjadi representasi dari kekayaan laut Sabang yang melimpah.
Baca juga : Mie Sedap Sabang, Kuliner Legendaris Sejak 1940-an yang Tak Pernah Pudar
Hidangan ini lahir dari kedekatan masyarakat pesisir dengan laut. Gurita yang digunakan biasanya merupakan hasil tangkapan harian nelayan lokal di perairan sekitar Sabang, yang dikenal kaya akan biota laut. Kesegaran bahan baku inilah yang menjadi kunci utama kelezatan sate gurita. Sebelum dibakar, daging gurita terlebih dahulu direbus dengan rempah-rempah pilihan untuk menghilangkan aroma amis sekaligus memberikan cita rasa dasar yang kuat.
Di atas bara api, potongan gurita dipanggang hingga berubah warna menjadi kecokelatan, sesekali diolesi bumbu agar tidak kering. Proses ini membutuhkan ketelatenan dan pengalaman. Jika terlalu lama dibakar, teksturnya bisa menjadi keras, namun jika pas, hasilnya justru lembut dan juicy.
Sate gurita biasanya disajikan dengan dua pilihan bumbu utama, yakni saus kacang yang gurih dan sedikit manis, atau bumbu padang yang kaya rempah dengan sensasi pedas yang menggigit. Hidangan ini semakin nikmat saat disantap bersama potongan lontong hangat, menciptakan perpaduan rasa yang sederhana namun memuaskan.
Baca juga : Estetik dan Berkarakter, Kreativitas Pengrajin Lokal Mengemas Laut Sabang dalam Souvenir Unik
Popularitas sate gurita bukanlah hal baru. Sejak puluhan tahun lalu, kuliner ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sabang. Awalnya hanya disajikan di rumah-rumah warga, kini sate gurita menjelma menjadi menu wajib bagi wisatawan yang berkunjung ke kota paling barat Indonesia ini.
Salah satu pelaku usaha yang masih mempertahankan tradisi ini adalah generasi penerus warung Sate Ajo. Bagi mereka, menjaga kualitas bukan sekadar kewajiban, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap warisan kuliner daerah.
“Mengolah gurita itu butuh seni. Jika salah teknik, dagingnya bisa menjadi alot seperti karet. Kami berharap sate Ajo lebih dikenal luas lagi serta kami mempromosikan juga yang dikelola oleh anak saya. Bagi kami, menyajikan sate gurita bukan sekadar mencari untung, tapi memperkenalkan kekayaan laut Sabang kepada dunia. Kami tetap menjaga bahan baku langsung dari nelayan lokal agar kualitas seafood kami tetap yang terbaik,” ujar salah satu pengelola.
Baca juga : Martabak Durian Samudera Pase, Legitnya Bikin Pelintas Jalan Rela Berhenti di Geudong
Menurutnya, pembeli sate gurita tidak hanya berasal dari wisatawan lokal, tetapi juga mancanegara yang penasaran dengan cita rasa unik dari kuliner ini. Banyak di antara mereka yang awalnya ragu mencoba, namun akhirnya ketagihan setelah mencicipinya.
Tak hanya menjadi sajian kuliner, sate gurita juga memiliki peran penting dalam mendukung sektor pariwisata Sabang. Hidangan ini menjadi bagian dari pengalaman wisata yang tidak terpisahkan, melengkapi keindahan alam dan kekayaan budaya yang dimiliki daerah tersebut.
Hal itu juga diungkapkan oleh Cut Adek yang menilai sate gurita sebagai ikon kuliner yang merepresentasikan identitas Sabang.
“Sate gurita adalah wajah dari pariwisata Sabang. Kalau ke Sabang tapi belum mencicipi sate gurita, rasanya belum lengkap. Ini bukan hanya makanan, tapi cerita tentang laut, tentang nelayan, dan tentang budaya kita,” ujarnya.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Humaira. Ia menilai sate gurita memiliki kekuatan tersendiri dalam menarik minat wisatawan, terutama karena keunikannya yang tidak mudah ditemukan di daerah lain.![Duta Wisata Kota Sabang Humaira memperlihatkan Sate Gurita Sabang yang legendaris [Foto/HO For Habanusantara/Humaira]](https://habanusantara.net/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-18-at-10.28.03.jpeg)
“Wisatawan biasanya penasaran karena ini berbeda dari sate pada umumnya. Setelah mencoba, mereka bukan hanya suka rasanya, tapi juga pengalaman menikmatinya, apalagi kalau langsung di pinggir pantai. Ini yang membuat sate gurita punya daya tarik kuat sebagai bagian dari wisata Sabang,” kata Humaira yang juga Duta Wisata Kota Sabang.
Ia menambahkan, kuliner lokal seperti sate gurita perlu terus dipromosikan sebagai bagian dari identitas daerah, karena mampu menjadi pintu masuk bagi wisatawan untuk mengenal budaya dan kehidupan masyarakat pesisir Sabang.
Di tengah gempuran kuliner modern, sate gurita tetap bertahan dengan cara tradisionalnya. Kesederhanaan justru menjadi kekuatan utama—dari bahan baku segar, proses memasak yang autentik, hingga cita rasa yang jujur tanpa rekayasa berlebihan.
Menikmati sate gurita di tepi pantai, ditemani angin laut dan suara ombak, menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Setiap gigitan bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang perjalanan—dari laut, ke dapur, hingga ke meja makan.
Jadi, jika Anda berkunjung ke Sabang, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi sate gurita. Sebab di balik kenyalnya daging dan gurihnya bumbu, tersimpan cerita panjang tentang kekayaan laut dan kearifan lokal yang terus dijaga hingga kini.[***]





