News112

Cincau Warisan Nenek, Produksi Naik 10 Kali Lipat Saat Ramadan

Redaksi
Proses pembuatan cincau milik Djoek Fa di Kampung Laksana Banda Aceh
Proses pembuatan cincau milik Djoek Fa di Kampung Laksana Banda Aceh
A-AA+A++

Habanusantara.net – Saat Ramadan, cincau menjadi salah satu makanan favorit yang sangat diburu masyarakat. Makanan ini sangat lezat jika dicampurkan air dan manisan.

Salah satu usaha cincau yang sangat legend di Banda Aceh yaitu Djoek Fa cincau yang berada di Kampung Laksana, Kota Banda Aceh.

Djoek Fa masih mempertahankan produksi cincau yang telah diwarisi turun-temurun dari kakeknya sejak lebih dari 60 tahun lalu.

Sebagai generasi ketiga, ia tetap setia mengelola usaha keluarganya meski harus menghadapi tantangan ekonomi yang semakin berat.

“Produksi cincau ini sudah berjalan lebih dari 60 tahun. Saya generasi ketiga yang meneruskan usaha ini dari nenek,” ujar Djoek Fa, Selasa (4/3/2025).

Setiap Ramadan, kata dia, usaha cincaunya mengalami peningkatan produksi yang cukup signifikan dibandingkan hari biasa. Jika di luar bulan puasa ia hanya memproduksi sekitar 40 kaleng per hari, saat Ramadan jumlahnya bisa melonjak hingga 400 kaleng.

“Kalau hari biasa karena permintaan tidak banyak biasa ada produksi kadang seharinya libur, tapi saat Ramadan ada peningkatan hingga 10 kali lipat,” jelasnya.

Usaha yang telah dijalan sejak lebih setengah abad ini, ia masih mempertahankan kualitasnya. Di tengah gempuran bahan pokok yang terus merangkak naik, ia tetap mempertahankan harga jual cincau Rp25 ribu per kaleng.

“Kita tidak bisa menaikkan harga meskipun bahan baku mahal. Kalau Ramadan harga barang naik, tapi kita tetap jual dengan harga yang sama,” jelasnya.

Usaha cincau ini hanya melayani pedagang sebagai pembeli utama. Djoek Fa dan timnya menjual cincau dalam kemasan plastik tanpa kaleng untuk kemudian diolah dan dijual kembali oleh para pedagang di berbagai tempat.

“Biasanya yang beli masyarakat sekitar dan pedagang di pasar,” sebutnya.

Untuk memenuhi kebutuhan produksi, setiap kali pembelian daun cincau, Djoek Fa bisa menghabiskan hingga satu ton yang didatangkan langsung dari Jawa. Namun, jumlah produksi tetap bergantung pada permintaan pasar yang sulit diprediksi.

“Daun cincau sekali beli bisa sampai satu ton. Tapi kita tidak bisa pastikan berapa lama itu cukup, karena tergantung permintaan,” ungkapnya.

Saat Ramadan Djoek Fa juga membuka peluang kerja lebih banyak. Dalam proses produksi dirinya dibantu enam pekerja. Sementara di hari biasanya ia hanya dibantu dua orang pekerja.

Produksi cincau sendiri dilakukan setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 11.00 WIB. Dengan proses yang tetap mengandalkan cara tradisional, Djoek Fa berharap usaha cincau ya dapat terus berjalan dan memiliki daya beli yang lebih meningkat.

“Karena kita tidak tau kondisi kedepan, harapannya cincau kita selalu diminati dan terus meningkat untuk kedepannya,” pungkas Djoek Fa.[Fira]