habanusantara.net – Akibat kabut asap (jerebu, Malaysia-red) dari Sumatera dan Kalimantan (Indonesia) dan kualitas udara yang semakin menurun, sekolah di bawah empat PPD (Pejabat Pendidikan Daerah) di Selangor, Johor, dan Kuala Lumpur diliburkan, pada Senin, (12/10/2026).
Sebagaimana yang diberitakan di malaysiatribune.news, Selasa, (13/10/2026). Menteri Pendidikan, Datuk Seri Fadhlina Sidek mengatakan, keputusan libur sekolah itu dibuat berdasarkan prosedur operasi standard (SOP) dan arahan dari Kementerian Kesihatan Malaysia (KKM) dan Jabatan Meteorologi Malaysia (MetMalaysia) yang mengutamakan kesehatan dan keselamatan para murid di wilayah tersebut.
“Keputusan berhubung operasi sekolah dibuat secara bersama berdasarkan panduan serta nasihat jawatankuasa yang terlibat dalam pengurusan situasi jerebu. Keputusan akan dibuat dari semasa ke semasa berdasarkan panduan dan nasihat yang diberikan semua pihak berkaitan,” katanya, sebagaimana dimuat di media malaysiatribune.news, terbit pada Selasa, (13/10/2026).
Salah seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang sudah menikah dan menetap di Selangor, Malaysia, Loly (39), kepada media ini mengatakan, Selasa (13/10/2026), via WhatsApp, dari Agustus terlihat jerebu (kabut asap). Akibat kualitas udara buruk dan mengganggu kesehatan, Loly mengatakan, kalau klinik di dekat tempat tinggalnya, banyak masyarakat yang terkena sakit tenggorokan dan pedih mata serta mengganggu pernafasan.
“Setau saya jerebu berpunca daripada kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berlaku di beberapa wilayah Indonesia, terutamanya di Kalimantan Barat dan Sumatera. Sekitar dua bulan ini sudah terlihat jerebut dan semakin parah. Akibat Tebalnya jerebu (asap) penglihatan di jalan raya berkurang jadi banyak terjadi kecelakaan lalu lintas yang memakan Korban jiwa, bahkan aktifitas anak sekolah dibatasi untuk olahraga diluar,” papar Loly.
Selain jarak pandang yang terganggu dan kualitas udara yang semakin buruk, pemerintah meliburkan sekolah dan belajar di rumah. Penutupan sekolah di Selangor dan Kuala Lumpur, dimulai sejak 9 Oktober 2026. Kebijakan ini hampir serentak diseluruh negeri di Malayasia, itu pun karena dah ada kejadian kecelakaan lalu lintas di beberapa negeri yang merenggut nyawa. Loly berharap kondidi ini cepat berakhir dan kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan, cepat padam. “Harapannya agar segera tidak ada lagi jerebu akibat kebakaran hutan di Indonesia,” harap Loly.
Hal yang sama dikatakan warga Malaysia yang tinggal di Johor Bahru, Bee Hwa Lee (47), mengatakan via phone WhatsApp, kalau anaknya sudah libur sekolah sejak seminggu lalu dan kini libur diperpajangkan lagi seminggu lagi karena kualitas uda dan jerebut (kabut asap) belum membaik. “Budak (anak, Malaysia-red) tidak dapat sekolah. Minggu lepas cuti dua hari dan minggu ini cuti lima hari lagi. Tapi, kena ikut jadwal masuk kelas di internet,” jelas Hwa.
Ibu rumah tanggga ini mengatakan, dengan kualitas udara yang tidak bersahabat ini, ia dan keluarganya lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. “Saya dan keluarga mengurangi aktifitas di luar rumah dan banyak menghabiskan waktu di rumah,” demikian pungkas Hwa. (saniah)





