Sigli. Habanusantara.net
Pidie menjadi rujukan studi resolusi konflik internasional sebanyak 32 akademisi dan mahasiswa Program Georgetown Asia Pacific Peace Academy (GAPPA) dari Georgetown University’s School of Foreign Service Asia Pacific (GSAP) Jakarta, memilih Pidie sebagai objek kajian. Rabu 23/9/2026
Kunjungan tersebut difasilitasi oleh International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS). Para peneliti itu berasal dari negara yang masih berkonflik, yakni Sri Lanka, Myanmar, Thailand, Filipina, dan Jepang.
Hal itu terungkap saat pertemuan antara Bupati Pidie, H. Sarjani Abdullah, S.H., M.H., dengan 32 akademisi tersebut di ruang kerja Bupati Pidie, Rabu (23/9/2026).
Bupati Pidie menyambut baik kedatangan para peneliti tersebut dan mengucapkan terima kasih telah memilih Pidie sebagai lokasi studi lapangan.
Pada kesempatan itu, Sarjani juga menguraikan pengalamannya yang pernah terlibat langsung dan menjadi tokoh sentral dalam memimpin pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di wilayah Pidie dan Pidie Jaya. Ia juga mengakui pernah mendapatkan latihan khusus di Libya.
Selain itu ia juga menjelaskan, kesepakatan MoU Helsinki merupakan landasan awal perdamaian Aceh. Dari kesepakatan tersebut juga disepakati Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) sebagai transisi pemerintahan Aceh pasca-damai.
“Berbicara keberhasilan perdamaian konflik Aceh, berarti membahas komitmen tinggi masyarakat Aceh dalam menjaga MoU Helsinki,” ungkap Sarjani.
Namun menurutnya, perjalanan perdamaian Aceh belum sepenuhnya sempurna. Saat ini, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat sedang meramu kembali revisi UUPA sebagai langkah panjang mengawal perdamaian Aceh.
Adapun perdamaian bukan saja terhenti dari konflik senjata, namun bagaimana kesepakatan damai diimplementasikan dalam pemenuhan aspirasi daerah, pembangunan yang mampu menjaga kepercayaan masyarakat dan tata kelola pemerintahan.
“Semoga perdamaian Aceh menjadi contoh resolusi konflik bagi seluruh negara di dunia, bukan hanya dari konflik tetapi juga mempertahankan perdamaian,” pungkasnya.
Sementara itu, Rektor GSAP, Yukhi John Tajima, mengungkapkan pertemuan tersebut merupakan bagian dari studi lapangan ke daerah pasca-konflik (post-conflict field visit) untuk mempelajari resolusi konflik, tata kelola pemerintahan, dan perdamaian.
“Bagi kami, Bapak H. Sarjani menjadi sosok penting untuk menggali informasi terkait faktor keberhasilan perdamaian konflik bersenjata di Aceh,” ujar Yukhi. (Raju)





