Habanusantara.net— Komandan senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mayor Jenderal Ahmad Vahidi, mengklaim pasukan Iran berhasil membuat kekuatan militer lawan bertekuk lutut setelah menjalani enam bulan operasi yang disebutnya sebagai perjuangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Pernyataan itu disampaikan Vahidi dalam pesan yang ditujukan kepada pasukan pada Sabtu. Ia memuji kinerja militer Iran dalam menghadapi serangkaian serangan dan menyebut kemampuan ofensif serta defensif pasukannya berhasil menghadapi tekanan berat.
“Kalian … telah membuat tentara dengan persenjataan terberat dalam sejarah dunia bertekuk lutut melalui operasi ofensif dan defensif yang sukses di tengah gempuran hebat,” kata Vahidi, sebagaimana dilansir Press TV.
Vahidi menggambarkan operasi tersebut berlangsung dalam kondisi medan yang beragam, mulai dari wilayah pesisir dan kepulauan di bagian selatan hingga kawasan pegunungan di utara Iran.
Menurut dia, keberhasilan pasukan Iran tidak terlepas dari kemampuan mereka beradaptasi di medan perang serta dukungan masyarakat Iran.
Ia juga mengklaim Iran telah menyesuaikan taktik penggunaan rudal dan drone selama konflik terbaru dengan Amerika Serikat. Penyesuaian tersebut, menurut laporan yang dikutip dalam pernyataannya, disebut semakin menantang sistem pertahanan udara Amerika Serikat di kawasan Asia Barat.
Namun, klaim mengenai keberhasilan militer tersebut merupakan pernyataan dari pihak Iran dan tidak seluruhnya dapat diverifikasi secara independen berdasarkan informasi yang tersedia dalam bahan ini.
Dalam pesannya, Vahidi juga mengaitkan perjuangan pasukan Iran dengan sejarah perang Iran-Irak selama delapan tahun serta sejumlah pertempuran dalam sejarah Islam, termasuk Badar dan Khaibar.
Ia menyebut pengorbanan pasukan Iran sebagai bagian dari perjuangan yang terinspirasi nilai-nilai keagamaan dan mengatakan pengalaman tersebut telah membuka jalan baru bagi gerakan perlawanan di berbagai negara.
Vahidi turut memberikan penghargaan kepada masyarakat Iran yang disebutnya terus memberikan dukungan kepada pasukan selama konflik berlangsung.
Ia kemudian menyinggung kondisi masyarakat di sejumlah wilayah konflik, khususnya Palestina dan Lebanon. Menurutnya, penderitaan masyarakat di kawasan tersebut harus segera berakhir.
Dalam pernyataan yang sama, Vahidi menyebut Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Ia mengatakan serangan tersebut kemudian berakhir dengan gencatan senjata pada 8 April, setelah Iran melakukan serangkaian operasi balasan.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari narasi pemerintah dan militer Iran dalam menggambarkan hasil konflik serta kemampuan pertahanan negaranya.
Sementara itu, penilaian mengenai sejauh mana operasi militer Iran berhasil memengaruhi kemampuan lawan membutuhkan verifikasi dan pembandingan dengan data independen dari berbagai pihak[*]





