Habanusantara.net — PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau Bank Syariah Indonesia mencatat lonjakan signifikan pada Tabungan Haji sepanjang 2025 hingga Triwulan I 2026. Pertumbuhan tersebut mengantarkan BSI menguasai 53,6 persen pangsa pendaftaran haji nasional sekaligus memperkuat posisi perseroan sebagai bank syariah terbesar di Tanah Air.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, mengatakan antusiasme masyarakat untuk menunaikan ibadah haji terus meningkat setiap tahun dan menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan tabungan perseroan.
“Tabungan saat ini menjadi engine growth BSI termasuk dari Tabungan Haji,” kata Anggoro dalam paparan kinerja Triwulan I 2026 di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
BSI mencatat jumlah nasabah Tabungan Haji telah menembus 7,25 juta orang. Dari angka tersebut, sekitar 1,2 juta di antaranya berasal dari kalangan generasi muda, yakni milenial dan Gen-Z.
Lonjakan tabungan haji juga berdampak terhadap pertumbuhan basis nasabah BSI secara keseluruhan. Sejak merger pada 1 Februari 2021, jumlah nasabah BSI bertambah 9,26 juta. Khusus pada tiga bulan pertama 2026, jumlah nasabah kembali meningkat sekitar 500 ribu menjadi 23,7 juta nasabah.
Data BSI menunjukkan jumlah pendaftar haji nasional terus mengalami kenaikan. Pada 2023, jumlah pendaftar tercatat sebanyak 286,4 ribu orang dan melonjak menjadi 422,3 ribu pada 2025.
Dari total pendaftar tersebut, sebanyak 226,4 ribu jamaah mendaftar melalui BSI. Angka itu membuat market share pendaftaran haji BSI naik dari 49,5 persen pada 2023 menjadi 53,6 persen pada 2025.
Tak hanya mendominasi pendaftaran, BSI juga menguasai fase keberangkatan jamaah. Pada musim haji 2026, sebanyak 83,5 persen jamaah yang berangkat tercatat merupakan nasabah yang mendaftar melalui BSI.
Perseroan menyebut peningkatan jumlah pendaftar ditopang kemudahan pembukaan rekening melalui aplikasi BYOND by BSI serta berbagai program kampanye haji yang dilakukan secara nasional.
Pertumbuhan nasabah dan dana murah turut mendorong peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) BSI. Hingga Maret 2026, DPK BSI tumbuh 18 persen secara tahunan menjadi Rp376,8 triliun.
Pertumbuhan tertinggi terjadi pada segmen dana murah atau CASA. Giro naik 24,17 persen menjadi Rp71,7 triliun, sedangkan tabungan tumbuh 20,18 persen menjadi Rp164,5 triliun. Secara total, CASA BSI meningkat 21,36 persen menjadi Rp236,2 triliun.
Kinerja tersebut ikut mendongkrak total aset BSI menjadi Rp460,1 triliun per Maret 2026 dan membawa BSI masuk jajaran lima besar bank nasional setelah resmi berstatus bank persero pada Januari 2026.
Selain bisnis syariah, BSI juga mencatat pertumbuhan signifikan dari bisnis emas setelah memperoleh lisensi bank emas. Perseroan menyebut jumlah nasabah non-Muslim turut meningkat hingga mencapai 12 persen.
Direktur Finance and Strategy BSI, Ade Cahyo Nugroho, mengungkapkan dual licence menjadi salah satu faktor utama yang menopang pertumbuhan pendapatan berbasis komisi atau fee based income.
Pada Triwulan I 2026, fee based income BSI tercatat mencapai Rp2,09 triliun atau tumbuh 22,98 persen secara tahunan. Bisnis emas menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp705 miliar atau naik 125 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, pembiayaan BSI juga tumbuh dobel digit mencapai Rp329 triliun atau naik 14,39 persen secara tahunan dengan dominasi pembiayaan pada sektor konsumer dan ritel.
Direktur Sales and Distribution BSI, Anton Sukarna, mengatakan BSI juga terus memperluas dukungan terhadap program pemerintah, termasuk pembiayaan rumah subsidi, KUR, koperasi desa, hingga program Makan Bergizi Gratis.
Sepanjang Triwulan I 2026, BSI menyalurkan dukungan pembiayaan MBG sebesar Rp198 miliar kepada 211 dapur MBG serta menyalurkan pembiayaan rumah subsidi kepada ratusan nasabah dengan total pembiayaan mencapai Rp5,7 triliun.





