Habanusantara.net, Pertemuan maraton antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan. Negosiasi tingkat tinggi yang sempat diharapkan menjadi titik balik hubungan kedua negara itu justru menemui jalan buntu atau deadlock.
Wakil Presiden AS, JD Vance, yang memimpin langsung delegasi Washington, memutuskan meninggalkan meja perundingan pada Minggu (12/4/2026).
Ia menegaskan bahwa kegagalan tersebut dipicu oleh penolakan Iran terhadap sejumlah syarat utama yang diajukan AS, termasuk penghentian pengembangan senjata nuklir.
“Kabar buruknya adalah kita belum mencapai kesepakatan, dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat,” ujar Vance, dikutip dari Reuters.
Vance menambahkan bahwa selama proses negosiasi berlangsung, dirinya intens berkomunikasi dengan Presiden AS, Donald Trump, bahkan hingga enam kali untuk membahas perkembangan situasi secara langsung. Namun, upaya tersebut tidak cukup untuk menjembatani perbedaan mendasar antara kedua negara.
Delegasi AS yang turut diisi utusan khusus Steve Witkoff dan penasihat senior Jared Kushner akhirnya memilih kembali ke Washington tanpa membawa hasil konkret.
Di sisi lain, Iran justru menunjukkan sikap berbeda. Pemerintah Teheran menyatakan bahwa pembicaraan tidak sepenuhnya gagal dan masih akan berlanjut pada tahap berikutnya, dengan fokus pada pertukaran dokumen sebagai dasar menuju kesepakatan jangka panjang.
Delegasi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menilai masih ada ruang diplomasi, meski mengakui adanya perbedaan serius dengan pihak Amerika.
Pertemuan ini sendiri menjadi sorotan global karena merupakan kontak langsung pertama antara AS dan Iran dalam lebih dari satu dekade, sekaligus dialog tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam Iran 1979. Hasilnya dipandang krusial dalam menentukan arah konflik terbaru kedua negara, termasuk terkait gencatan senjata sementara dan stabilitas kawasan.
Salah satu isu paling krusial dalam perundingan adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan energi dunia. Penutupan jalur ini sejak konflik memanas pada akhir Februari 2026 telah memicu lonjakan harga minyak global dan memperburuk ketegangan geopolitik.
Situasi semakin emosional ketika delegasi Iran membawa sejumlah barang pribadi milik warga sipil korban serangan rudal AS ke dalam ruang negosiasi. Pakaian dan sepatu milik korban, termasuk anak-anak, diletakkan di kursi-kursi seolah menjadi simbol kehadiran mereka dalam perundingan, mempertegas dampak kemanusiaan dari konflik yang terus berkecamuk.
Meski pertemuan di Islamabad berakhir tanpa hasil, kedua pihak masih membuka kemungkinan untuk melanjutkan dialog. Namun, dengan posisi yang masih saling berseberangan, jalan menuju kesepakatan damai tampaknya masih panjang dan penuh ketidakpastian.





