Sigli. Habanusantara.net
Perayaaan PIDIE ke-514 juga hadir Musisi yang terlibat dalam proyek album Nyawöung dan kaset Nyawöung pernah dibredel militer saat konflik bersenjata di Aceh
Nyawöung digarap selama kurang lebih tiga bulan pada tahun 2000, tak lama setelah sejumlah peristiwa berdarah terjadi di Serambi Makkah pada 1999.
Keputusan menjadikan dirinya sebagai vokalis utama untuk lagu berjudul “Haro Hara” waktu itu bagi Cut Aja Rizka merupakan beban moral.
“Lagu Haro Hara ini menceritakan langsung peristiwa yang terjadi, walaupun memang tidak diceritakan syairnya secara panjang atau dijelaskan, cuma disebut tempat saja, tetapi kita langsung terbayang,” tutur Cut Aja Rizka.
Dalam bahasa Aceh, haro hara berarti huru-hara. Lagu ini mengisahkan Aceh yang tengah dicabik-cabik oleh konflik bersenjata, serta diwarnai dengan sejumlah kasus pembantaian yang dilakukan militer Indonesia.
“Haro Haro” memotret empat tragedi kemanusiaan di Aceh. Tiga di antaranya terjadi berturut-turut pada 1999.
Empat peristiwa itu, Tragedi Arakundoe yang terjadi pada 3 Februari 1999, Simpang KKA terjadi pada Mei 1999, Peristiwa Tengku Bantaqiah pada Juli 1999 dan Rumoh Geudong. (Raju)




















