Habanusantara.net- Di tengah derasnya arus tren fashion global, siapa sangka sebuah brand lokal asal Banda Aceh mampu bertahan dan berkembang dengan karakter kuat yang tak lekang oleh waktu.
Ija Kroeng, sebuah brand fashion yang mengangkat nilai-nilai budaya Aceh dalam balutan desain modern nan berdaya saing tinggi. Bermula dari produk riset yang digunakan sendiri, Ija Kroeng kini menjelma menjadi simbol kreativitas dan ketekunan dalam ekosistem ekonomi kreatif daerah.
Cerita Ija Kroeng dimulai jauh sebelum merek itu dikenal publik. Sekitar tahun 2010, Khairul Fajri Yahya sudah merintis produk sarung khas Aceh ini dalam bentuk tanpa nama, tanpa label, dan tanpa tujuan komersial.
Baru pada Maret 2015, Ija Kroeng secara resmi diluncurkan sebagai sebuah brand dengan sistem produksi, pemasaran, dan manajemen yang terstruktur. Sejak itulah, perjalanan bisnis yang penuh tantangan dan pembelajaran dimulai.
Basis ide Ija Kroeng bukan sekadar fashion. Lebih dari itu, brand ini lahir dari semangat untuk memuliakan budaya Aceh, sembari tetap relevan dengan zaman. Khairul menyebut bahwa inspirasi terbesarnya datang dari culture, yang dipadukan dengan nilai-nilai sejarah dan agama.
“Ini bukan sekadar sarung. Ini adalah simbol dari narasi lokal yang kami bungkus dalam cita rasa global,” katanya.
Menariknya, Khairul berlatar belakang pendidikan teknik mesin. Dunia mode menjadi ranah baru baginya. yang dipelajari secara otodidak. Ia membuktikan bahwa kreativitas tidak mengenal sekat keilmuan.
Demi memperkuat kompetensinya, ia kemudian memutuskan untuk kembali kuliah di Jakarta, mengambil jurusan fashion designer dan aktif mengikuti berbagai pelatihan, workshop, serta bootcamp sejak 2022.
Dalam merancang koleksi, Ija Kroeng tidak sekadar mengandalkan intuisi. Mereka menerapkan pendekatan ilmiah melalui trend forecasting, baik dari lembaga nasional seperti Indonesian Trend Forecasting (ITF) maupun seminar-seminar tren global. Hasilnya, produk Ija Kroeng selalu relevan dan selangkah lebih maju dalam hal warna, bahan, dan desain dibandingkan banyak pelaku lokal lainnya.
“Kalau kita tidak ikut tren forecasting, kita akan selalu ketinggalan satu tahun dari tren nasional,” katanya.
Setiap tahun, Ija Kroeng hanya merilis satu seri utama, yang terdiri dari berbagai item seperti sarung ikat, sarung tenun, sarung regular, hingga celana sarung. Setiap seri diberi nama yang filosofis, misalnya motif Amun Berangkat dari tanah Gayo yang menggambarkan semangat istiqamah dalam berkarya. Desain yang diusung cenderung minimalis, modern, dan khas anak muda.
DNA warna yang diusung pun konsisten seperti warna netral, tanah, atau palet-palet maskulin yang mudah diterima pasar pria.
Berbeda dari brand lainnya, Ija Kroeng menciptakan produk yang bisa dipakai dalam berbagai aktivitas seperti dari ibadah, acara formal, hingga kegiatan ekstrim seperti naik gunung atau touring motor. Pilihan bahan pun tidak lazim. Misalnya, bahan linen yang jarang digunakan untuk sarung, justru menjadi ciri khas Ija Kroeng.
Segmen pasar yang dibidik adalah anak muda usia 20 hingga 46 tahun, sebuah rentang yang aktif dan cenderung mencari identitas dalam gaya.
“Kami ingin pengguna merasa eksklusif. Kami nggak bikin produk massal yang pasaran. Bahkan untuk koleksi fashion show, kita enggak jual. Itu murni buat kampanye dan eksistensi,” jelasnya.
Membangun brand kreatif di daerah tentu tidak semudah di kota besar. Tantangan utama yang dihadapi Ija Kroeng justru bukan pada bahan atau modal, melainkan pada sumber daya manusia (SDM).
Di awal, Khairul kesulitan menemukan penjahit atau desainer lokal yang mampu mengikuti standar Ija Kroeng. Namun kini tantangan itu mulai terpecahkan melalui program magang dari SMK, Balai Latihan Kerja (BLK), hingga magang mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK).
10 tahun berjalan, kini industri Ija Kroeng telah menggandeng 13 tenaga kerja yang merupakan anak muda Aceh. Mayoritas dari mereka merupakan perempuan yang memiliki keahlian dalam menjahit dan ide-ide kreatifnya.
“Mereka bekerja di workshop kami yang tersebar di dua lokasi, termasuk unit tenun yang ada di Lampineung,” ujarnya.
Bagi Ija Kroeng, bertahan bukan soal meniru tren, tapi menciptakan tren. Khairul tidak pernah berpuas diri dengan karya yang ada. Setiap tahun, brand ini aktif mengikuti 3 hingga 5 fashion show tingkat nasional, baik untuk kampanye maupun membangun jejaring pasar dan komunitas.
Tak hanya berorientasi pada penjualan, Ija Kroeng juga giat dalam transfer pengetahuan kepada anak muda melalui program magang dan sponsorship.
“Kami bukan hanya jualan. Tapi kami juga membangun ekosistem. Ini bentuk tanggung jawab kami sebagai pelaku kreatif,” katanya.
Memasuki usia satu dekade, Ija Kroeng telah melewati masa-masa sulit dan meraih banyak pencapaian. Namun Khairul menyadari bahwa tantangan ke depan tidak akan lebih mudah.
Gen Z dan generasi Alpha memiliki preferensi yang berbeda, yang menuntut inovasi dan penyesuaian terus-menerus. Maka, komitmen untuk terus belajar, beradaptasi, dan menjaga orisinalitas menjadi kunci.
“Kami tidak khawatir dengan kompetitor, karena diferensiasi kami sudah kuat. Tapi kami harus tetap lincah. Harus terus belajar dan berinovasi agar bisa bertahan di dekade kedua,” tutupnya.[***]




















