Habanusantara.net– Media sosial tengah ramai memperbincangkan cuplikan trailer film animasi Merah Putih: One For All.
Bukan soal alur cerita atau tokohnya, tapi karena ada satu detail yang bikin sebagian penonton terkejut: keberadaan senjata api di sebuah adegan.
Jika diperhatikan dengan teliti, pada salah satu scene tampak para tokoh anak-anak berada di sebuah gudang.
Di sudut kiri bawah layar, terlihat jelas deretan senjata api tersandar rapi. Potongan gambar ini langsung jadi bahan sorotan dan menuai pertanyaan, “Kok bisa senjata api muncul di film anak-anak?”
Produser sekaligus sutradara, Endiarto, buru-buru memberikan penjelasan. Menurutnya, senjata itu hanyalah properti untuk kebutuhan cerita, bukan senjata asli.
“Itu properti untuk peringatan 17 Agustus. Ada adegan orang pakai baju Belanda bawa senjata, nah yang di gudang itu ya propertinya. Jadi bukan senjata bener,” ujarnya seperti dilansir detik.com, Senin (11/8/2025).
Endiarto juga menepis tudingan bahwa film ini dibuat terburu-buru. Proses produksi disebut sudah berjalan setahun penuh, dengan tahap pascaproduksi dimulai sejak Mei 2025.
“Semua ide dan materi sudah disiapkan setahun sebelumnya. Akhir Mei kita mulai post pro, tinggal finishing,” jelasnya.
Meski begitu, netizen tetap mengulik lebih jauh. Beberapa warganet menemukan kemiripan gudang senjata dalam trailer dengan aset animasi 3D yang dijual di situs Daz3D.com.
Cukup ketik “military warehouse” di kolom pencarian, dan muncullah gudang persis seperti di film itu, lengkap dengan rak senjata M16, M4, hingga AK-47. Harganya pun terbilang murah, sedang promo USD 11,48 atau sekitar Rp 187 ribu.
Tak berhenti di situ, kritikan lain pun bermunculan. Karakter tokoh anak di film ini diduga berasal dari aset impor yang dijual di Reallusion Content Store, buatan desainer Pakistan, dengan harga sekitar Rp 700 ribuan per paket. Ditambah lagi, ada komentar pedas soal kualitas animasi, pengisi suara, hingga musik yang dianggap “asal jadi”.
Film Merah Putih: One For All dijadwalkan tayang pada 14 Agustus 2025. Menurut pihak produksi, biaya pembuatannya mencapai Rp 6,7 miliar, namun seluruhnya berasal dari dana internal mereka.
Meski demikian, warganet tetap bertanya-tanya: dengan bujet sebesar itu, mengapa hasilnya justru menuai kritik dari berbagai sisi?[]





