Habanusantara.net, Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi momok yang menakutkan bagi penderitanya. Penyakit yang satu ini seakan membawa sebuah kutukan dan cibiran banyak orang.
HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Virus ini dapat melemahkan tubuh dalam melawan infeksi dan penyakit.
Di Indonesia, berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per September 2023, kasus HIV mencapai 515.455 kasus.
Sementara di Aceh, Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat, penderita HIV di daerah ujung barat Sumatra itu per Juni 2023 mencapai 1.321 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Aceh dr. Munawar, Sp. OG (K) mengatakan, HIV/AIDS menjadi salah satu Penyakit menular yang paling trend di Aceh ditahun 2023 ini, HIV/AIDS = 248 kasus.
“Kasus HIV/AIDS di Aceh terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun,” katanya.
Ia mengungkapkan, Pada tahun 2017, kasus di Aceh mencapai 110 kasus dan tahun 2018 mengalami peningkatan menjadi 135 kasus. Namun, pada tahun 2019 mengalami penurunan, yakni hanya mencapai 63 kasus.
Kemudian pada tahun 2020, kasus HIV kembali naik yakni menjadi 85 kasus, lalu tahun 2021 merangkak menjadi 104 kasus dan tahun 2022 membludak menjadi 190 kasus. Sementara tahun 2023 hingga bulan Oktober mencapai 248 kasus.
Angka tersebut yang sudah terdeteksi, Belum lagi, kata dr Munawar, banyak masyarakat yang masih malu melakukan pemeriksaan dini apakah ia terdeteksi penyakit tersebut atau tidak.
“Kasus HIV di Aceh didominasi oleh kaum pria akibat praktik homoseksual atau laki seks laki-laki,”ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Keseharan Provinsi Aceh, dr. Iman Murahman menambahkan, untuk pengobatan virus HIV / AIDS di Aceh sudah tersedia dibeberapa rumah sakit dibeberapa Kabupaten kota di Aceh.
Saat ini sejumlah rumah sakit di Aceh yang sudah melayani pemeriksaan atau pengobatan HIV. Rumah sakit dimaksud adalah Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA), RS Cut Mutia Aceh Utara dan RS Umum Langsa.
“Di sini makin banyak pengobatan, di rumah sakit yang saya sebutkan tadi memang sebagai kabupaten penyumbang terbanyak kasusnya,” kata Iman.
Gejala dan Cara Penularan
Iman Nurahman mengatakan, kebanyakan penderita mengalami flu ringan pada 2–6 minggu setelah terinfeksi HIV, yang bisa disertai dengan gejala lain dan bertahan selama 1–2 minggu.
Dalam banyak kasus, kata Iman, seseorang mungkin tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi HIV karena gejala awalnya mirip flu biasa.
“Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang gejala HIV agar dapat segera mendapatkan perawatan yang diperlukan,” kata Iman Nurahman.
Dia menjelaskan bahwa setelah fase flu, gejala HIV mungkin tidak terlihat selama bertahun-tahun, meskipun virus terus merusak sistem kekebalan tubuh. Seringkali, seseorang baru menyadari terinfeksi setelah mengalami penyakit parah akibat melemahnya daya tahan tubuh.
“Penting bagi masyarakat untuk mendeteksi HIV lebih awal melalui pemeriksaan kesehatan rutin. Penyakit parah seperti diare kronis, pneumonia, penurunan berat badan drastis, atau toksoplasmosis otak dapat menjadi indikator bahwa sistem kekebalan tubuh sudah terpengaruh,” tambahnya.
Penularan HIV dapat terjadi melalui hubungan seks vaginal atau anal, penggunaan jarum suntik, dan transfusi darah. Meskipun jarang, HIV juga dapat menular dari ibu ke anak selama masa kehamilan, melahirkan, dan menyusui.
Iman menyebutkan ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko penularan adalah sebagai berikut, di antaranya berhubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan dan tanpa menggunakan pengaman.

“HIV juga bida menyebar gara-gara menggunakan jarum suntik bersama-sama dan melakukan pekerjaan yang melibatkan kontak dengan cairan tubuh manusia tanpa menggunakan alat pengaman diri yang cukup,” kata Iman.
Ratnawati, pengelola HIV/AIDS di Dinas Kesehatan Aceh menambahkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan meningkat jumlah penderita HIV di provinsi tersebut, antara lain lemahnya pendidikan agama dan kurangnya pengawasan dari orang tua.
“Di Aceh itu saya lihat terlalu bebas, perhatian orang tua khususnya dalam pengawasan anak kurang, sehingga anak-anak sudah mencoba melakukan seks dini,” ujar Ratnawati.
Selain para remaja, kata dia, penderita HIV juga kerap mendera orang tua, khususnya mereka yang melakukan hubungan dengan pasangan bukan muhrim. Setelah terjangkit penyakit tersebut, lalu ditularkan ke istrinya saat melakukan hubungan badan.
“Bukan remaja saja, orang yang sudah berkeluarga pun melakukan hubungan seks, dengan bukan muhrimnya, sehingga tertular,” ujar dia.
Pemerintah Aceh melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) telah melakulan berbagai upaya dalam menekan jumlah kasus HIV di daerah ujung barat Sumatra itu.
Kepala Dinkes Aceh, dr Munawar mengatakan, langkah-langkah yang dimaksud adalah dengan melakukan sosialisasi pada masyarakat dan sekolah-sekolah tentang bahayanya penyakit tersebut.
“Kami juga mengimbau masyarakat tidak malu melakukan pemeriksaan,” ujarnya.
Munawar juga menekankan pentingnya kampanye penyuluhan dan edukasi tentang HIV. Iman Nurahman berharap agar masyarakat Aceh lebih proaktif dalam menjaga kesehatan dan meningkatkan kesadaran tentang HIV.
“Dinkes Aceh terus berupaya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya tes HIV, terutama bagi mereka yang berisiko tinggi. Dengan deteksi dini, kita dapat memberikan perawatan yang lebih baik dan memperlambat perkembangan penyakit,” ungkapnya. [Adv]





