habanusantara.net – Produksi beras Indonesia mencapai 34,69 juta ton pada 2025, meningkat 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 30,62 juta ton. Peningkatan ini memperkuat pasokan pangan dalam negeri di tengah upaya pemerintah mengurangi ketergantungan pada impor beras.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi pada 2025 mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling dengan luas panen sekitar 11,32 juta hektare. Sementara itu, produksi beras periode Januari–Agustus 2026 dilaporkan mencapai 25,29 juta ton.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan peningkatan produksi didukung berbagai kebijakan, mulai dari pembenahan distribusi pupuk bersubsidi, rehabilitasi irigasi, penggunaan teknologi pertanian, hingga penguatan penyerapan hasil panen.
“Produksi meningkat karena petani bekerja lebih keras dan pemerintah memperkuat dukungan dari hulu sampai hilir. Namun, swasembada bukan sekadar angka produksi. Swasembada berarti produksi cukup, stok aman, petani sejahtera, dan masyarakat memperoleh pangan dengan harga yang terjangkau,” kata Amran.
Sebelumnya, Indonesia mengimpor beras lebih dari 7 juta ton sepanjang 2023 dan 2024. Berdasarkan data BPS, impor beras pada 2023 mencapai 3,06 juta ton, kemudian meningkat menjadi 4,52 juta ton pada 2024.
Untuk memperkuat produksi, pemerintah menurunkan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen mulai 22 Oktober 2025. Pada 2026, alokasi pupuk bersubsidi ditetapkan sebanyak 9,55 juta ton dengan sasaran lebih dari 16 juta petani.
Pemerintah juga melaporkan rehabilitasi irigasi seluas 280.880 hektare dengan realisasi 99,93 persen pada tahap pertama. Untuk menghadapi risiko iklim pada 2026, Kementerian Pertanian menyiapkan pompanisasi bagi lahan seluas 2,2 juta hektare dan rehabilitasi irigasi sekitar 1 juta hektare.
Selain meningkatkan produksi, pemerintah berupaya memastikan hasil panen terserap dan cadangan beras tetap terjaga. Perum BULOG melaporkan pengadaan gabah dan beras dalam negeri mencapai 4,11 juta ton setara beras hingga 8 Oktober 2026, melampaui target penugasan sebesar 4 juta ton.
Pengadaan tersebut berperan dalam memperkuat Cadangan Beras Pemerintah sekaligus mendukung penyerapan hasil panen. Namun, jumlah pengadaan BULOG berbeda dari total produksi nasional karena tidak seluruh hasil panen diserap oleh perusahaan tersebut.
Meski produksi meningkat, pemerintah masih menghadapi pekerjaan lanjutan untuk memperkuat kemandirian pangan. Kedelai, bawang putih, dan daging sapi, misalnya, masih membutuhkan penguatan produksi domestik untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri.
Di sisi lain, keberlanjutan swasembada juga bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga produktivitas saat cuaca ekstrem, memperbaiki distribusi pangan, mengendalikan biaya produksi, serta memastikan harga yang layak bagi petani dan terjangkau bagi konsumen.
Amran mengatakan pemerintah akan melanjutkan penguatan produksi, penyerapan hasil panen, pemanfaatan teknologi, dan perlindungan petani.
“Target kita bukan hanya swasembada sesaat, tetapi kemandirian pangan yang berkelanjutan,” ujarnya.[Fira]





