Sampah Plastik Disulap Jadi Produk Bernilai di Banda Aceh

Redaksi
A-AA+A++

Habanusantara.net – Sampah plastik mulai dimanfaatkan sebagai sumber ekonomi baru di Banda Aceh. Melalui pengelolaan berbasis komunitas, limbah rumah tangga diolah menjadi produk bernilai, seperti kompos, media tanam, hingga berbagai kerajinan.

Pengolahan sampah tersebut dilakukan di KamiKita Community Center, Gampong Mulia, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Di lokasi itu, sampah yang biasanya berakhir di tempat pembuangan terlebih dahulu dipilah dan diolah untuk kembali dimanfaatkan.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, melihat langsung proses pengolahan sampah tersebut saat membuka Forum Group Discussion (FGD) bertajuk “Peluang Kolaborasi Literasi Keuangan dan Ekonomi Hijau Ramah Iklim” di KamiKita Community Center, Senin (31/8/2026).

Illiza meninjau sejumlah inovasi pengelolaan limbah, mulai dari pengolahan sampah plastik secara manual, pembuatan kompos dari limbah rumah tangga, hingga pemanfaatan tutup botol plastik menjadi produk kreatif seperti gantungan kunci, tutup gelas, dan kursi.

Selain plastik, serabut kelapa juga dimanfaatkan menjadi cocofiber sebagai media pendukung tanaman.

Salah satu produk yang menarik perhatian adalah gantungan kunci berbentuk gajah. Produk tersebut tidak hanya memiliki nilai jual, tetapi juga membawa misi sosial karena hasil penjualannya digunakan untuk mendukung kegiatan pengajaran gajah oleh lembaga swadaya masyarakat di Aceh Besar dan wilayah Aceh lainnya.

“Kami mendukung penuh kegiatan usaha mandiri seperti ini. Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga ekonomi. Dari sampah bisa jadi peluang ekonomi besar,” ujar Illiza.

Menurutnya, pengelolaan sampah berbasis masyarakat menjadi bagian dari upaya mendorong ekonomi hijau di Banda Aceh. Pemerintah, kata Illiza, akan membuka ruang kolaborasi dengan komunitas yang mengembangkan inovasi pengolahan limbah.

Ia juga mengajak masyarakat mulai mengurangi sampah dari rumah serta membiasakan memilah dan memanfaatkan kembali barang yang masih memiliki nilai guna.

“Program daur ulang penting agar siklus material terus berputar dan tidak mencemari lingkungan,” katanya.

Sementara itu, KamiKita menjalankan program “Sampahmu Rezekiku”, yakni sistem barter yang memungkinkan masyarakat menukar botol plastik dan sampah daur ulang dengan kompos, media tanam, maupun bibit tanaman.[Fira]