Habanusantara.net – Bencana banjir yang melanda Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, meninggalkan dampak besar bagi ribuan warga. Hingga Senin (8/12/2025) sore, berdasarkan data yang dihimpun wartawan HabaNusantara Net mencatat ratusan rumah hanyut, rusak parah, hingga terendam akibat derasnya arus sungai yang meluap sejak pekan lalu.
Di sejumlah desa, warga terpaksa menyelamatkan diri ke lokasi yang lebih aman setelah air bah menerjang pemukiman. Arus yang begitu kuat membuat masyarakat tidak mampu mempertahankan harta benda dan rumah mereka.
Banyak warga terjebak dalam situasi banjir mendadak yang naik secara cepat, sehingga tak sempat menyelamatkan barang berharga.
Di Desa Lubok Pusaka, kondisi paling parah terlihat dari jumlah rumah yang hanyut mencapai 352 unit. Selain itu, 107 rumah dinyatakan rusak parah, sementara 51 rumah lainnya mengalami kerusakan sedang. Desa ini menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak karena berada di jalur arus air yang deras sejak awal banjir menerjang.
Sementara itu, di Desa Buket Linteung, dampak banjir juga tak kalah berat. Sebanyak 449 rumah terendam, 217 unit rusak berat, dan 197 rumah mengalami kerusakan ringan. Jumlah pengungsi dari desa ini mencapai 1.877 jiwa dari 597 kepala keluarga (KK). Dari total pengungsi tersebut, terdiri dari 947 laki-laki, 930 perempuan, 91 lansia, dan 224 balita. Kondisi ini membuat desa tersebut menjadi salah satu titik pengungsian terbesar di Kecamatan Langkahan.
Di Desa Alue Dua, banjir juga merusak pemukiman. Sebanyak 72 rumah rusak parah, 32 unit hanyut terbawa arus, dan 86 rumah rusak ringan. Banyak warga kehilangan tempat tinggal dan kini bertahan dengan bantuan seadanya dari warga lain atau posko darurat.
Di lapangan, kebutuhan mendesak terus bertambah. Warga Langkahan sangat membutuhkan tenda, logistik, air bersih, obat-obatan, serta akses listrik yang hingga kini masih padam sejak banjir melanda. Kondisi tanpa penerangan membuat warga semakin kesulitan, terutama pada malam hari ketika mereka harus menjaga keluarga, terutama anak-anak dan lansia, agar tetap aman.
Selain tiga desa tersebut, sejumlah desa lain di Kecamatan Langkahan masih dalam proses pendataan oleh para geuchik. Banyak lokasi yang sulit dijangkau akibat akses jalan yang rusak dan tertutup lumpur. Pemerintah daerah disebut sedang melakukan pengembangan rencana perbaikan rumah warga, namun progresnya masih dalam tahap awal.
Warga terdampak berharap bantuan dari pemerintah dapat segera turun. Banyak di antara mereka yang kini hidup di pengungsian tanpa kepastian kapan dapat kembali membangun rumah. Beberapa warga bahkan mengaku belum mendapatkan bantuan sejak banjir menerjang pertama kali.
“Kami berharap pemerintah segera membantu. Banyak rumah hanyut, banyak yang tidak memiliki apa-apa lagi. Tolong dipercepat,” ujar seorang warga yang ditemui di lokasi pengungsian.[Munawir]





