Habanusantara.net – Gelombang bencana yang melanda sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Aceh, pada akhir November 2025, mendapat perhatian dari berbagai kalangan, tak terkecuali para tokoh agama. Banjir, tanah longsor, hingga gempa yang terjadi akibat cuaca ekstrem selama musim hujan meninggalkan duka dan kekhawatiran, namun juga menjadi ruang perenungan bagi masyarakat.
Imam Masjid Al-Falah Gampong Ujong Kareung, Kecamatan Sukajaya, Kota Sabang, Tgk Muchtar Andhika, menyampaikan pandangannya terkait kondisi tersebut. Menurutnya, rangkaian musibah ini bukanlah bentuk kemarahan Allah, melainkan ujian yang harus disikapi dengan kesabaran dan keimanan yang kuat.
“Setiap bencana yang terjadi bukan untuk melemahkan, tetapi menjadi ujian bagi kita semua. Ini adalah bagian dari kehidupan, untuk melihat sejauh mana kita mampu bersabar dan tetap berpegang pada nilai keimanan,” ujar Tgk Muchtar dengan nada penuh keteduhan.
Ia menegaskan bahwa keadaan darurat seperti ini tidak hanya menguji kesiapan fisik dan sistem penanggulangan bencana di lapangan, tetapi juga mental serta spiritual masyarakat. Dalam situasi sulit, Tgk Muchtar mengimbau umat Islam agar tetap tangguh dan tidak goyah menghadapi ketentuan Allah SWT.
“Musibah mengajarkan kita untuk lebih dekat kepada Allah. Dalam kondisi apa pun, kita harus terus berusaha, bekerja dengan ikhtiar maksimal, dan tidak lupa memperbanyak doa,” tambahnya.
Tgk Muchtar juga mengingatkan bahwa menghadapi bencana membutuhkan kebijaksanaan. Ia mendorong masyarakat untuk tetap menjaga harapan dan tidak terjatuh dalam rasa takut berlebihan. Menurutnya, sikap terbaik adalah menerima takdir dengan lapang dada sambil terus memperbaiki diri.
“Mudah-mudahan ada guna serta manfaat dari apa yang terjadi. Semoga Allah melindungi kita semua, dan menjadikan musibah ini sebagai wujud kasih sayang-Nya, bukan sebagai murka,” ucapnya.[]




















