HIV di Aceh Meningkat, 46 Persen Serang Usia Produktif, MJ: Jangan Malu Tes

Redaksi
A-AA+A++

Habanusantara.net – Kasus HIV di Aceh terus menunjukkan peningkatan dan mulai mengancam kelompok usia produktif. Data Dinas Kesehatan Aceh mencatat, hingga September 2025, sebanyak 46 persen kasus terjadi pada rentang usia 21–30 tahun, sementara 6 persen ditemukan pada usia 11–20 tahun.

Sejak 2004 hingga kini, sebanyak 81 persen kasus HIV di Aceh dialami laki-laki, dengan 53 persen di antaranya berasal dari kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL). Fakta ini menunjukkan pola penyebaran yang mulai bergeser ke kelompok usia muda.

Muhammad Jamil SKM MKes dari Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh mengimbau masyarakat agar tidak takut melakukan tes HIV. Menurutnya, semakin cepat seseorang mengetahui statusnya, semakin efektif pengobatan yang bisa dilakukan.

“Kalau sudah positif HIV, jangan takut dan jangan malu untuk berobat. Tidak ada orang yang ingin jadi penderita HIV, sebagian besar terjebak karena lingkungan dan pergaulan berisiko,” kata Muhammad Jamil, Senin (3/11/2025).

Ia menyebut, selama sembilan bulan terakhir tercatat 120 kasus baru HIV/AIDS dan 37 kasus sifilis dari 80.146 orang yang menjalani skrining. Dari 55.638 ibu hamil yang diperiksa, enam orang dinyatakan positif HIV. Jumlah yang sama juga ditemukan dari 9.372 calon pengantin yang mengikuti pemeriksaan pra-nikah.

“Ini sinyal bahaya. Kaum muda Aceh mulai masuk dalam lingkaran risiko penularan HIV, banyak tertular akibat hubungan seksual tidak aman dan perilaku berisiko,” ujarnya.

Fenomena ini, lanjut Jamil, berkaitan erat dengan perilaku seks pranikah di kalangan remaja. Berdasarkan survei BKKBN tahun 2020, sebanyak 8 persen remaja laki-laki dan 2 persen remaja perempuan di Aceh usia 15–24 tahun mengaku pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Sebanyak 11 persen di antaranya bahkan mengalami kehamilan.

“Banyak remaja laki-laki melakukannya karena penasaran, sementara perempuan karena dipaksa oleh pasangan. Motif berbeda, tapi risiko tertular penyakit menular seksual tetap sama,” ungkapnya.

Ia menegaskan pentingnya edukasi kesehatan reproduksi di sekolah maupun masyarakat agar tidak lagi dianggap tabu. Menurutnya, sikap diam justru membuat generasi muda semakin rentan.

“Kalau kita terus menganggap pembahasan soal seks itu memalukan, angka HIV akan terus meningkat. Edukasi terbuka dan berbasis data harus dilakukan,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Jamil juga menyoroti pentingnya pemeriksaan kesehatan calon pengantin sebagai langkah pencegahan penularan dari ibu ke anak. Ia mengatakan, pemeriksaan tersebut bukan hal yang menakutkan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap pasangan dan generasi mendatang.

“Pemeriksaan sebelum menikah bukan untuk menakut-nakuti, tapi memastikan calon orang tua sehat agar anak yang lahir juga sehat,” ujarnya dalam kegiatan workshop di Banda Aceh yang diikuti Dinkes Aceh, Unicef, dan Sahass Initiative.

Menurutnya, pendekatan tanpa stigma dan penuh empati menjadi kunci penting dalam penanganan HIV. Saat ini, 23 rumah sakit di kabupaten/kota di Aceh telah menyediakan layanan skrining kesehatan untuk mendeteksi dini potensi penularan penyakit.

“Deteksi sejak dini memungkinkan pencegahan dan pengobatan dilakukan lebih cepat sehingga risiko penularan bisa ditekan secara signifikan. Mari bangun kesadaran bahwa keluarga sehat dimulai dari pasangan yang sehat,” tutupnya.[is]