Kasus HIV di Banda Aceh Terus Bertambah, Kini Capai 938

Redaksi
A-AA+A++

habanusantara.net – Kasus HIV/AIDS di Kota Banda Aceh terus ditemukan dari tahun ke tahun. Sejak kasus pertama ditemukan pada 2008, Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh mencatat jumlahnya mencapai 938 kasus hingga Agustus 2026.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, dr. Supriady, mengatakan penanganan HIV tidak cukup hanya dilakukan ketika seseorang sudah mengalami gejala. Edukasi dan pemeriksaan atau screening perlu terus diperkuat agar infeksi dapat diketahui lebih awal.

Baca juga : Hipertensi dan Diabetes Jadi PTM Tertinggi, Dinkes Ingatkan Cek Rutin

“Untuk saat ini tentunya kita tetap melakukan edukasi. Kemudian kita melakukan screening,” kata Supriyadi.

Ia menjelaskan, HIV dan AIDS bukan istilah yang sama. HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Pada tahap awal, orang yang terinfeksi dapat belum menunjukkan gejala, sehingga seseorang bisa saja terlihat sehat meskipun sudah terinfeksi.

Sementara AIDS merupakan kondisi paling lanjut dari infeksi HIV ketika sistem kekebalan tubuh telah mengalami kerusakan berat dan berbagai penyakit atau infeksi oportunistik dapat muncul. Tanpa pengobatan, HIV dapat berkembang menjadi AIDS dalam jangka waktu tertentu.

Baca juga : Dinkes Banda Aceh: Jangan Abaikan Gejala Demam atau Diare Pascabanjir

“Jadi harus dibedakan HIV dengan AIDS. HIV itu nama virusnya,” ujar Supriady, Kamis (17/9/2026).

Menurutnya, HIV menyerang sel-sel kekebalan tubuh sehingga kemampuan tubuh melawan penyakit dapat menurun. Karena itu, seseorang yang tidak mengetahui status HIV dan tidak mendapatkan pengobatan berisiko mengalami berbagai penyakit ketika sistem kekebalannya semakin lemah.

Supriady mengatakan, berdasarkan pencatatan Dinkes Banda Aceh pada 2026, sekitar 95 persen kasus yang ditemukan berkaitan dengan transmisi seksual atau hubungan sesama jenis.

Selain melalui hubungan seksual, HIV dapat menular melalui darah yang terkontaminasi, penggunaan jarum atau alat tusuk yang tidak steril, serta dari ibu dengan HIV kepada anak selama kehamilan, persalinan atau menyusui. HIV tidak menular melalui kontak sehari-hari seperti berjabat tangan, berpelukan, berbagi makanan atau menggunakan fasilitas umum bersama.

Karena itu, Supriady meminta masyarakat tidak hanya memahami cara penularan HIV, tetapi juga tidak takut untuk melakukan pemeriksaan. Tes HIV penting terutama bagi orang yang memiliki riwayat paparan berisiko.

“Edukasi dan screening ini terus kita lakukan,” katanya.

Menurut Supriady, semakin cepat HIV diketahui, semakin cepat pula seseorang dapat memperoleh penanganan. Karena itu, masyarakat diharapkan tidak menunggu munculnya gejala untuk memeriksakan diri.[***]