Habanusantara.net – Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menemukan dugaan penyalahgunaan penyaluran bahan bakar minyak (BBM) subsidi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Aceh.
Temuan tersebut diperoleh saat BPH Migas melakukan pengawasan langsung di beberapa SPBU wilayah Meulaboh, Aceh Jaya, dan Kota Sabang, Pulau Weh, pada 19–20 Juli 2026.
Anggota Komite BPH Migas, Bambang Hermanto, mengatakan dalam pemantauan tersebut pihaknya menemukan sejumlah kendaraan yang diduga melakukan praktik pengeritan BBM subsidi.
Di wilayah Meulaboh, petugas menemukan kendaraan yang mengantre untuk membeli BBM subsidi dengan kondisi tidak wajar. Beberapa kendaraan diketahui memiliki nomor polisi bagian depan dan belakang yang berbeda serta kondisi fisik yang tidak laik jalan.
“Kendaraan-kendaraan tersebut diduga merupakan kendaraan pengerit,” kata Bambang Hermanto.
Selain itu, BPH Migas juga menemukan kendaraan jenis pikap yang diduga digunakan untuk mengambil BBM subsidi dalam jumlah tertentu. Di dalam kendaraan tersebut ditemukan beberapa jeriken yang diduga digunakan untuk menampung BBM.
Modus yang ditemukan yakni BBM subsidi yang berada di dalam tangki kendaraan dialirkan menggunakan selang ke dalam jeriken untuk kemudian dijual kembali dengan harga lebih tinggi.
“Kendaraan tersebut melakukan pembelian BBM subsidi di beberapa SPBU, kemudian BBM dari tangki kendaraan dialirkan ke jeriken untuk dijual kembali,” ujarnya.
BPH Migas menegaskan akan memberikan tindakan tegas terhadap pihak yang terbukti melanggar aturan penyaluran BBM subsidi, termasuk terhadap penyalur yang tidak menjalankan prosedur distribusi sesuai ketentuan.
Selain modus pengalihan BBM ke jeriken, BPH Migas juga mengingatkan SPBU agar memperketat pengawasan penggunaan QR Code dalam transaksi BBM subsidi.
Bambang menyebut, penggunaan banyak QR Code yang tidak sesuai dengan identitas kendaraan berpotensi menjadi celah penyalahgunaan karena dapat digunakan untuk mengambil alokasi BBM subsidi secara berulang.
“Pengelola SPBU harus berhati-hati dalam melayani kendaraan yang diduga menjadi pengerit karena memiliki banyak QR Code untuk mengambil jatah BBM subsidi dan kemudian dijual kembali,” katanya.
Dalam pengawasan tersebut, BPH Migas juga memastikan ketersediaan stok BBM di sejumlah wilayah Aceh, termasuk Kota Sabang yang berada di Pulau Weh, masih dalam kondisi aman.
Menurut Bambang, peningkatan aktivitas di beberapa SPBU dipengaruhi adanya peralihan sebagian konsumen dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi.
“Kami turun langsung untuk memastikan stok BBM mencukupi bagi kebutuhan masyarakat serta harga BBM subsidi yang dijual sesuai dengan ketentuan pemerintah,” ujarnya.[***]





