Habanusantara.net – Wakil Ketua DPRK Banda Aceh Dr Musriadi Aswad MPd meminta Pemerintah Aceh segera mengambil langkah konkret menyikapi tingginya angka pengangguran lulusan sarjana di Aceh. Hal itu menyusul data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh yang menunjukkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) tertinggi justru berasal dari kelompok lulusan pendidikan tinggi.
Berdasarkan rilis BPS Aceh per November 2025, lulusan Diploma IV hingga S3 mencatat TPT sebesar 8,68 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan lulusan jenjang pendidikan lainnya.
Musriadi menilai kondisi tersebut menjadi peringatan serius bagi pemerintah daerah maupun perguruan tinggi di Aceh untuk segera mencari solusi bersama.
“Data BPS ini menjadi alarm bagi kita semua. Pemerintah Aceh dan perguruan tinggi harus duduk bersama mencari solusi agar lulusan sarjana tidak terus mendominasi angka pengangguran,” kata Musriadi, Senin(9/2/2026).
Menurutnya, tingginya pengangguran sarjana menunjukkan masih adanya ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Karena itu, ia mendorong penguatan konsep link and match antara perguruan tinggi dengan dunia usaha dan industri.
Musriadi mengatakan kurikulum pendidikan tinggi perlu lebih adaptif terhadap kebutuhan sektor strategis di Aceh, seperti ekonomi kreatif, pertanian modern, perikanan, pariwisata, hingga ekonomi digital.
“Jangan hanya fokus mencetak ijazah, tapi juga mencetak kompetensi. Kampus harus menyiapkan mahasiswa agar siap pakai ketika lulus,” ujarnya.
Selain itu, ia juga mendorong perluasan program magang, kerja praktik, serta pelatihan keterampilan bagi mahasiswa tingkat akhir maupun lulusan baru. Menurutnya, pengalaman kerja sejak bangku kuliah dapat meningkatkan peluang lulusan terserap di pasar kerja.
Musriadi juga meminta Pemerintah Aceh memberikan dukungan kepada sektor swasta dan pelaku usaha lokal agar membuka lebih banyak lapangan kerja bagi lulusan perguruan tinggi.
“Pemerintah harus hadir dengan kebijakan yang mendorong dunia usaha menyerap tenaga kerja, termasuk lulusan sarjana. Misalnya melalui insentif, kemitraan, atau program penempatan kerja,” jelasnya.
Di sisi lain, penguatan kewirausahaan di lingkungan kampus juga dinilai penting agar lulusan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja baru.
Wakil Ketua DPRK Banda Aceh dari daerah pemilihan Syiah Kuala dan Ulee Kareng itu berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan dunia usaha dapat menekan angka pengangguran sarjana di Aceh secara bertahap.
“Kalau ini dikelola serius dan terintegrasi, saya optimistis pengangguran sarjana di Aceh bisa berkurang dan lulusan perguruan tinggi dapat berkontribusi nyata bagi pembangunan daerah,” tutupnya.[***]





