Bukan Tidak Mau, Tapi Tidak Mampu: Krisis Childfree di Indonesia

Redaksi
A-AA+A++

OPINI: Scroll sebentar di media sosial, dan kamu pasti akan menemukan setidaknya satu utas tentang ini pasangan muda yang terang-terangan bilang tidak mau punya anak, atau yang lebih banyak lagi, yang diam-diam sudah menghitung dan menyimpulkan hal yang sama. Bukan karena tidak suka anak. Tapi karena ketika semua angka dijumlahkan, hasilnya tidak pernah masuk akal.

Ini bukan fenomena pinggiran. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 menemukan sekitar 71 ribu perempuan berusia 15 hingga 49 tahun secara sadar memilih untuk tidak memiliki anak. Angka itu belum menghitung perempuan usia subur yang menggunakan kontrasepsi atau belum menikah.

Dan tren ini diprediksi terus naik. Di sisi lain, data SUPAS 2025 mencatat Total Fertility Rate (TFR) Indonesia kini menyentuh angka 2,13 mendekati batas angka penggantian penduduk. Artinya, generasi ini tidak hanya memilih untuk tidak punya anak. Mereka sedang mengubah wajah demografis Indonesia.

Coba bayangkan kondisi yang paling umum dialami anak muda Indonesia sekarang. Baru lulus, dapat kerja dengan gaji UMR atau sedikit di atasnya, masih ngontrak, masih kirim uang ke kampung. Lalu masyarakat bertanya, kapan nikah? Dan begitu menikah, pertanyaan berikutnya sudah menunggu kapan punya anak? Tidak ada yang pernah benar-benar mengajak ngobrol soal biaya nyatanya.

Berdasarkan data BPS, untuk hidup layak di Jakarta satu rumah tangga membutuhkan sekitar Rp14 juta hingga Rp15 juta per bulan. Sementara UMR Jakarta pada 2022 berada di angka Rp4,65 juta. Bahkan jika suami dan istri sama-sama bekerja, angka itu masih sering tidak cukup belum ditambah biaya persalinan, perlengkapan bayi, hingga pendidikan yang terus merangkak naik.

Banyak anak muda sekarang juga berada di posisi yang disebut generasi sandwich menanggung kebutuhan orang tua di satu sisi, sementara di sisi lain diharapkan segera membangun keluarga sendiri. Dua tanggung jawab besar, satu penghasilan yang pas-pasan. Wajar kalau yang muncul bukan semangat, tapi ketakutan.

Tapi bukan Cuma soal uang. Ada hal lain yang jarang dibicarakan secara terbuka trauma pola asuh yang dibawa sampai dewasa. Psikolog Khadijah Al Makiyah menyebutkan bahwa dari lima hingga tujuh penelitian yang dikaji, dua faktor yang selalu muncul sebagai alasan orang memilih childfree adalah faktor finansial dan trauma pengasuhan di masa lalu.

Generasi yang tumbuh tanpa ruang untuk bicara, tanpa kehadiran emosional yang cukup, kini berdiri di depan pilihan yang sama. Dan pertanyaan yang paling menghantui bukan soal uang tapi soal kemampuan: mampukah menjadi orang tua yang lebih baik dari yang pernah dialami sendiri?

Belum lagi standar parenting yang bertebaran di media sosial. Ibu yang sabar di setiap situasi, ayah yang selalu hadir, anak yang tumbuh bahagia tanpa drama. Konten-konten itu bukan cerminan realita, tapi banyak anak muda yang akhirnya mengukur diri mereka dengan standar itu dan sampai pada satu kesimpulan: mereka belum cukup layak.

Ketika seseorang memilih childfree, respons yang paling sering muncul adalah penghakiman. Egois. Tidak kodrati. Terlalu kebarat-baratan. Padahal jarang ada yang benar-benar bertanya kenapa kamu sampai pada keputusan itu? Menurut BPS, perempuan yang memilih childfree cenderung memiliki pendidikan tinggi atau mengalami kesulitan ekonomi. Artinya, ini bukan soal tren semata.

Ini soal kalkulasi hidup yang sangat nyata. Dan ketika negara merespons fenomena ini dengan imbauan moral alih-alih kebijakan struktural, yang terjadi bukan perubahan tapi penghakiman yang semakin keras terhadap mereka yang sudah terlanjur lelah. Menghakimi orangnya memang lebih mudah daripada mempertanyakan sistemnya.

Pemerintah sesekali bicara soal pentingnya angka kelahiran yang sehat untuk masa depan bangsa. Tapi pembicaraan itu jarang menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar kondisi apa yang harus diperbaiki agar anak muda mau dan mampu punya anak? Subsidi persalinan yang belum merata, tidak adanya cuti ayah yang memadai, minimnya perlindungan kerja untuk ibu muda, akses daycare yang masih mahal semua itu bukan detail kecil.

Itu adalah alasan nyata mengapa banyak orang memilih untuk menunda, atau berhenti mempertimbangkan sama sekali. Data Survei Ekonomi Nasional bahkan mencatat 76 persen keluarga tidak mampu memberikan pendidikan yang cukup bagi anak-anak mereka karena keterbatasan biaya. Anak muda tidak butuh diingatkan betapa pentingnya punya keturunan. Mereka butuh bukti bahwa negara hadir ketika mereka memutuskan untuk melakukannya.

Ketakutan punya anak di kalangan anak muda bukan tanda bahwa generasi ini tidak peduli masa depan. Justru sebaliknya mereka terlalu peduli sampai tidak berani gegabah. Mereka tidak kehilangan keinginan untuk mencintai. Mereka kehilangan keyakinan bahwa dunia ini cukup adil untuk menghadirkan kehidupan baru di dalamnya. Dan selama sistem tidak berubah, ketakutan itu tidak akan pergi hanya karena diminta.

Penulis : Lia Anggi Noverida Hutabarat
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Medan Area