Kadis DP2KP: Pertanian Modern Bisa Diterapkan di Banda Aceh

Redaksi
A-AA+A++

Habanusantara.net– Kepala Dinas Pangan, Pertanian, Kelautan dan Perikanan (DP2KP) Kota Banda Aceh, Iskandar, S.Sos., M.Si, meninjau langsung berbagai kegiatan Demplot (Demonstration Plot) yang dipamerkan pada ajang Pekan Nasional (PENAS) XVII Petani Nelayan Indonesia di Gorontalo.

PENAS XVII yang mengusung tema “Transformasi Teknologi dalam Mendukung Swasembada Pangan Nasional” menjadi ajang bagi pemerintah daerah, petani, nelayan, penyuluh, akademisi, dan pelaku usaha untuk berbagi pengalaman serta memperkenalkan teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas dan ketahanan pangan nasional.

Dalam kunjungan tersebut, Iskandar terlihat mengamati sejumlah teknologi dan inovasi pertanian modern yang ditampilkan, mulai dari budidaya hortikultura dalam polibag, pertanian hidroponik di rumah tanam modern, hingga demonstrasi budidaya padi pada lahan terbatas.

Berbagai demplot tersebut menjadi sarana edukasi bagi peserta untuk melihat secara langsung penerapan teknologi pertanian yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi penggunaan lahan.

Pada area pameran, Iskandar meninjau tanaman cabai dan berbagai komoditas hortikultura yang dibudidayakan secara intensif.

Ia juga melihat sistem hidroponik yang menghasilkan sayuran segar seperti selada dan sawi dengan pengelolaan nutrisi yang terukur.

Selain itu, terdapat pula demonstrasi budidaya padi dalam wadah khusus yang menunjukkan bahwa produksi pangan dapat dilakukan secara efektif meski dengan keterbatasan lahan.

Menurut Iskandar, berbagai inovasi yang dipamerkan di PENAS XVII menjadi referensi penting bagi pemerintah daerah dalam mengembangkan sektor pertanian perkotaan.

Kota Banda Aceh yang memiliki keterbatasan lahan pertanian membutuhkan pendekatan yang lebih modern dan adaptif agar kebutuhan pangan masyarakat tetap dapat terpenuhi.

“Banyak teknologi yang ditampilkan di sini sangat relevan untuk diterapkan di Banda Aceh, terutama konsep urban farming, hidroponik, serta pemanfaatan lahan sempit untuk budidaya hortikultura. Ini dapat menjadi solusi dalam meningkatkan ketahanan pangan masyarakat perkotaan,” ujarnya di sela-sela kunjungan.

Ia menjelaskan, penerapan model demplot seperti yang ditampilkan pada PENAS XVII dapat menjadi media pembelajaran bagi petani, kelompok wanita tani (KWT), pelaku usaha pertanian, hingga masyarakat umum.

Melalui demplot, masyarakat dapat melihat secara langsung proses budidaya yang baik dan benar, mulai dari penanaman, pemeliharaan hingga panen.

Lebih lanjut, Iskandar menilai sistem hidroponik yang dipamerkan memiliki peluang besar untuk dikembangkan di Banda Aceh.

Selain mampu menghasilkan sayuran berkualitas tinggi, metode tersebut juga lebih hemat air dan cocok diterapkan pada lingkungan perkotaan yang memiliki lahan terbatas.

Tidak hanya itu, konsep budidaya hortikultura dalam polibag juga dinilai dapat mendorong masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah sebagai sumber pangan keluarga.

 

Dengan dukungan pendampingan dan pelatihan yang memadai, program tersebut dapat menjadi bagian dari upaya pengendalian inflasi daerah melalui peningkatan produksi komoditas pangan strategis seperti cabai dan sayuran.

“Kami akan mempelajari lebih lanjut teknologi dan metode yang diterapkan di sini. Beberapa konsep sangat memungkinkan untuk direplikasi di Banda Aceh melalui program pemberdayaan kelompok tani maupun kelompok wanita tani,” katanya.

Berbagai inovasi yang diperoleh diharapkan dapat memperkuat program ketahanan pangan dan pertanian perkotaan yang selama ini dijalankan Pemerintah Kota Banda Aceh.[is]