Cegah Masalah Gizi, Dinkes Banda Aceh Edukasi Orang Tua soal Nutrisi dan 1.000 HPK

Redaksi
A-AA+A++

Habanusantara.net, Masalah gizi pada anak tidak cukup dicegah dengan pemberian makanan tambahan. Pemahaman orang tua tentang kebutuhan nutrisi sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun juga menjadi bagian penting untuk memastikan tumbuh kembang berlangsung optimal.

Karena itu, Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh mengedukasi para orang tua balita mengenai pemenuhan gizi dan pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) melalui kegiatan sosialisasi di Gampong Lamdingin, Kecamatan Kuta Alam, Rabu (16/9/2026).

Program tersebut dilaksanakan melalui Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh. Orang tua balita menjadi sasaran utama edukasi agar pemenuhan kebutuhan gizi anak dapat dilakukan sesuai tahapan usia.

Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh Farid Nyak Umar, S.T., yang membuka kegiatan, mengatakan persoalan nutrisi anak tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun generasi yang sehat dan berkualitas.

Menurut Farid, pemahaman orang tua mengenai makanan bergizi perlu dibangun sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Periode tersebut menjadi bagian penting dalam menentukan tumbuh kembang anak.

“Periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan merupakan masa yang sangat menentukan kualitas kesehatan anak di masa depan. Karena itu, pemahaman seorang ibu dan keluarga mengenai nutrisi yang tepat sangat penting,” ujar Farid.

Ia mengatakan sosialisasi tersebut menjadi salah satu upaya untuk membekali orang tua dengan pemahaman mengenai asupan yang dibutuhkan anak.

Farid juga menekankan bahwa pemenuhan nutrisi tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu. Keluarga memiliki peran dalam memastikan kebutuhan makanan dan gizi anak terpenuhi selama masa pertumbuhan.

Edukasi dalam kegiatan itu kemudian diperkuat melalui pemaparan materi oleh dr. Cut Nonda Meracilu, Sp.OG dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI).

Materi yang disampaikan mencakup pentingnya pemberian ASI, pola makan bergizi seimbang, serta peran keluarga dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak berdasarkan tahapan usianya.

Pembahasan mengenai ASI dan pola makan menjadi bagian penting karena kebutuhan nutrisi anak berubah seiring pertumbuhan. Karena itu, orang tua perlu memahami pola pemberian makanan yang sesuai dengan kondisi dan usia anak.

Edukasi tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mencegah persoalan gizi yang dapat memengaruhi pertumbuhan balita.

Dalam kegiatan tersebut hadir Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh Nurjannah, SKM., MKM, serta Ketua Rumah Keluarga Indonesia (KRI) Kecamatan Kuta Alam Nursanti.

Setelah sesi edukasi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan Paket Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada orang tua balita peserta kegiatan.

Paket tersebut diberikan sebagai bentuk dukungan terhadap pemenuhan asupan nutrisi anak di wilayah Gampong Lamdingin. Penyaluran PMT juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang menggabungkan edukasi dengan dukungan langsung kepada keluarga.

Namun, pemberian makanan tambahan tidak berdiri sendiri. Edukasi kepada orang tua tetap menjadi bagian penting agar keluarga memahami bagaimana memenuhi kebutuhan gizi anak dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ini juga memperlihatkan kolaborasi antara Dinas Kesehatan, DPRK Banda Aceh dan masyarakat dalam isu pemenuhan gizi anak.

Farid bersama Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh menyerahkan langsung paket nutrisi tersebut kepada para orang tua balita yang mengikuti kegiatan.

Bagi keluarga, pemahaman mengenai nutrisi menjadi salah satu dasar dalam menentukan pola makan anak. Sementara bagi pemerintah, edukasi dan pemberian dukungan nutrisi menjadi bagian dari upaya mendorong peningkatan status gizi anak.

Pesan utama yang dibawa dalam kegiatan tersebut adalah pentingnya perhatian terhadap kebutuhan anak sejak awal kehidupan. Masa 1.000 HPK menjadi periode yang perlu mendapat perhatian karena mencakup masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

Melalui sosialisasi dan pemberian PMT tersebut, para orang tua diharapkan tidak hanya memperoleh bantuan makanan tambahan, tetapi juga pemahaman yang dapat diterapkan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak sesuai tahapan pertumbuhannya.[***]