Habanusantara.net – Delegasi Program Doktor Pendidikan IPS Universitas Syiah Kuala (USK) mencatat prestasi membanggakan di ajang internasional The 12th National and International Conference of Education (NICE 2026) yang berlangsung di Phuket, Thailand, pada 7–8 Mei 2026.
Dua karya ilmiah yang dipresentasikan dalam forum tersebut berhasil meraih penghargaan Best Paper Award. Capaian ini membuat delegasi USK menjadi salah satu peserta yang paling menonjol di antara lebih dari 50 paper terpilih dari berbagai negara.
Penghargaan tersebut diraih oleh Koordinator Program Studi Doktor Pendidikan IPS USK, Dr. Muhammad Aulia, S.Pd., M.TESOL., M.A., bersama mahasiswi program doktoral, Ulfah Irani Z, S.Pd., M.Pd.
Dalam konferensi yang mengangkat tema “Beyond Regeneration: Transformative Pathways for Future Learning”, Dr. Muhammad Aulia mempresentasikan riset tentang pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran bahasa. Penelitian itu membahas bagaimana teknologi kecerdasan buatan dapat diterapkan untuk meningkatkan kompetensi bahasa di era digital.
Sementara itu, Ulfah Irani Z yang juga dosen STMIK Indonesia Banda Aceh membawa kajian mengenai pendidikan berkelanjutan. Penelitian tersebut dinilai memiliki pendekatan yang relevan terhadap tantangan pendidikan masa depan dan menawarkan solusi yang dapat diterapkan secara lebih luas.
Penilaian dilakukan secara independen oleh dewan juri yang terdiri dari akademisi dan pakar pendidikan dari berbagai perguruan tinggi dunia. Delegasi Indonesia bersaing dengan peserta dari Jepang, Korea Selatan, China, Filipina, Malaysia, Brunei Darussalam, hingga Thailand selaku tuan rumah.
Keberhasilan memborong dua penghargaan Best Paper sekaligus menjadi pengakuan terhadap kualitas riset akademisi USK di tingkat internasional.
Dr. Muhammad Aulia menyebut perkembangan AI dalam dunia pendidikan perlu terus direspons secara terbuka dan adaptif agar mampu mendukung proses pembelajaran yang lebih efektif di masa mendatang.
Di sisi lain, pengalaman Ulfah Irani Z sebagai praktisi pendidikan di Aceh turut memberi warna dalam penelitian yang dipresentasikannya, terutama dalam melihat tantangan pendidikan berkelanjutan dari sisi implementasi di lapangan.
Prestasi ini diharapkan dapat memacu semangat inovasi di dunia pendidikan, sekaligus memperkuat kontribusi akademisi Aceh dalam forum ilmiah internasional.[]





